S(d)ukacita

*trigger warning* Tulisan ini dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman dan memicu trauma terutama yang terindikasi mederita enpchlophobia dan  agoraphobia

Pandemi covid yang melanda selama hampir tiga tahun membuat setiap orang membatasi diri untuk berkumpul, bahkan kegiatan yang mengumpulkan massa dilarang. Dengan meredanya pandemi, tak hanya kelonggaran, berbagai restriksi dihapus membuat orang-orang merasakan euforia untuk berkumpul kembali. Banyaknya acara musik yang disambut dengan sangat antusias oleh para pencinta musik juga ramainya berbagai festival dan gelaran olah raga tak hanya di tanah air, tapi juga di Korea selatan.

Para pemuda dan pemudi di sana sangat antusias untuk merayakan Halloween di akhir bulan Oktober, meskipun sebenarnya Halloween tanggal 31 Oktober, tapi mereka sudah mamadati Itaewon semenjak malem Sabtu dan puncaknya di malam minggu. Itaewon sendiri terkenal sebagai tempat berkumpulnya para anak muda di setiap malam minggu, terutama malam-malam hari khusus seperti Halloween atau natal dan tahun baru karena biasanya berbagai cafe dan bar di kawasan ini menawarkan berbagai program diskon khusus dan acara spesial yang menarik. Itaewon, dikenal sebagai daerah multicultural pot, dimana di area ini terdiri dari banyak gang yang di kiri kanannya banyak resto-resto dari berbagai negara dan beragam cafe dan bar. Oleh karena itu, semakin menarik para pemuda dan pemudi, bukan hanya yang berasal dari korea selatan tapi juga dari negara lain baik yang sedang tinggal disana atau sengaja datang untuk merasakan kemeriahan festival.

Salah satu gang itaewon, sebelah hotel Hammilton dimana tempat terjadinya insiden (sumber gambar dari twitter)

Namun, acara festival berkumpul bersama teman yang seharusnya menyenangkan berakhir dengan trauma yang mendalam akibat jatuhnya puluhan korban. Dilansir dari berita, setidaknya 150 orang (yang kebanyakan muda mudi) tewas diantaranya hampir 50 orang meninggal di tempat karena henti jantung (cardiac arrest) akibat . Sebuah video menggambarkan, awalnya kerumunan orang yang meskipun sangat padat berjalan dengan lancar, namun ada dorongan yang menyebabkan arus pejalan kaki menjadi semakin memadat dan bahkan terhambat. Sementara itu, di video lain, tersebar kondisi tumpukan orang yang jatuh tertidih satu sama lainnya, terhimpit, berteriak histeris kesakitan dan meminta tolong. Pihak yang berwajib belum memberikan pernyataan resmi mengapa musibah ini bisa terjadi namun ada beberapa kemungkinan karena terlalu banyaknya orang di sebuah jalan yang sempit apalagi lokasi tempat kejadian merupakan jalan yang berkontur turun membuat orang yang dicountur terbawah merasakan sangat terdesak dan tertekan. Biasanya ketika orang mulai bergerak dalam kerumunan yang sangat padat, setiap individu tidak punya tempat untuk tubuhnya sendiri bergerak secara leluasa tapi mulai bergerak seperti cairan (fluid-like crowd) tekanan dari orang di belakang mendorong ke dapan, dan tekanan dari depannya di teruskan terus ke depannya lagi sehingga arus orang terus bergerak. Akan tetapi jika tiba-tiba ada orang yang didepan terjatuh, tidak ada tekanan untuk bersandar sehingga orang yang dibelakangnya juga jatuh, kemudian dibelakangnya lagi, juga belakangnya lagi, dan belakangnya lagi dan seseorang yang berusaha menolong orang yang terjatuh untuk terbangun ikut jatuh, seperti efek domino, semua akan terdorong ke tubuh didepannya, dan menimbulkan titik hambat yang disebabkan lusinan dari badan-badan orang yang terjatuh. Tidak peduli seberapa banyak orang yang berteriak dari depan untuk meminta bagian belakang tidak mendorong karena jalan didepan terhabat oleh orang yang jatuh, bagian belakang terus mendorong. Kematian utama biasanya karena compressive asphyxiation (sesak napas akibat tertekan) karena tekanan yang terlalu besar akibat tertimpa oleh puluhan orang.

Ilustrasi kejadian di sunderland yang posisi orangnya terjatuh dan berhimpitan mirip dengan kejadian di Itaewon (sumber gambar dari wikipedia)

Tentunya hal ini, bisa dihindari jika dilakukan crowd management yang baik dari pihak keamanan, dimana warga Korea menyayangkan kurangnya pihak kepolisian mengantisipasi adanya ledakan warga yang pergi ke daerah Itaewon, mseipun wilayah ini sudah snagat ramai sehari sebelumnya. Ketidak sengajaan saya melihat video bagaimana orang-orang berdesakan diantara hidup dan mati dalam kerumunan di Itewon mengingatkan saya tentang tragedi kanjuruhan yang baru terjadi di awal bulan Oktober. Bagaimana sebuah rekaman video keluarga yang berkumpul di tribun timur kanjuruhan untuk menyaksikan pertandingan sepakbola tim kesayangannya harus berhadapan dengan sebuah tragedi, terpisah, berdesak-desakan dan berduka untuk selamanya. Tak ada yang menyangka acara kumpul-kumpul yang harusnya menyisakan rasa bahagia dan menyenangkan menjadi sebuah tragedi yang traumatis. Sungguh batas antara duka dan suka yang sangat tipis.

Pelajaran untuk kita semua

Kejadian ini, tidak berarti buat kita yang suka menjadikan festival atau acara musik atau olahraga atau yang melibatkan kerumuman orang banyak sarana berkumpul dengan teman atau keluarga menjadi takut tapi agar lebih kepada menjadi waspada. Lalu bagaimana agar kita dapat mengikuti acara yang melibatkan orang banyak atau pergi ke tempat yang terkenal ramai dengan orang dengan aman? Beberapa tips yang bisa dilakukan untuk meminimalisir terjebak dalam kerumunan

Usahakan tahu tempatnya, meskipun baru pertama kali menjejakkan kaki di tempat tersebut tapi bisa mencari tahu melalui google map atau artikel review atau bertanya kepada orang yang pernah datang/hadir di tempat/acara serupa, kalau bisa datang sebelum waktunya lebih baik untuk lebih mengenal tempatnya. Bisanya kalau di sebuah ruangan diberikan tanda jalur evakuasi, pastikan tahu arah atau tanda jalur evakuasinya. Kalau di ruangan terbuka cari tahu bagaimana emergency route atau exit plan untuk keluar dari tempat tersebut apabila hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Kalau merasa situasi kurang kondusif jangan paksakan diri untuk bertahan mengikuti keseluruhan acara. Prof. G. Keith Still dalam bukunya Introduction to Crowd Science menyebutkan meningkatnya kepadatan orang maka arus akan meningkat tapi hanya sampai titik kritis yaitu 2-3 orang per meter persegi tapi tentunya ini bukan angka baku tergantung pada jenis keramaian dan acara. Tapi bisa dijadikan acuan jika kepadatan lebih dari 5 orang per meter persegi situasi sudah riskan dan sampai 7 orang per meter persegi orang tidak dapat lagi bergerak. Dengan mengetahui ini, jika kerumunan dirasa sudah terlalu padat sebaiknya tidak memaksakan diri bertahan di suatu acara, karena sekalinya kerumunan bersifat cairan kita akan terjebak dan tidak bisa keluar dari kerumunan

Untuk acara yang di dalam ruangan, pulang lebih awal sebelum acara puncak yang biasanya di penghujung acara bisa menjadi salah satu upaya untuk menghindari arus kerumunan massa yang padat terutama di area keluar. Ada juga yang tetap ikut cara puncak bahkan sampai di penutupnya tapi santai di tempat acara sampai massa agak terurai. Tapi jika crowd managemen sudah diperhitungkan dengan matang ikuti saja petunjuk dari petugas keamanan yang ada di sekitar acara.

Kalau misalnya nauzubillah (semoga kita semua dilindungi dari kejadian ini) kita terjebak dalam kerumunan dan terdesak2, lindungi daerah dada dan leher (jaga dari tekanan), posisi tangan dikepal di depan dada (bisa dilihat di gambar dibawah) dan yang juga penting usahakan jangan sampai terjatuh. Usahakan untuk tetap bernafas secara teratur (tidak panik berteriak-teriak yang akan menguras energi), salah seornag survivor Itaewon memberi kesaksian meski di kiri kanannya telah meninggal, dia bisa bernafas karena lebih tinggi (sehingga dadanya tidak tertekan) dan selama berdempetan dia hanya diam, berusaha tetap bernafas, tidak melawan arus yang mendorong tubuh selain adanya semangat untuk bisa tetap hidup. Mungkin tips ini sulit dilakukan, tapi semoga kita semua tak perlu mempraktekan tips ini.

Posisi tangan saat di kerumunan yang sangat padat

Selain itu, tak ada salahnya membekali diri kita dengan bagaimana melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan, seperti tekniknmelakukan CFR, mengetahui denyut jantung orang yang normal, dsb.

Semoga saja tidak ada lagi kejadian suka yang berubah menjadi duka.

Tulisan dibuat dalam rangka nulis kompakan Mamah Gajah Ngeblog, Oktober 2022 dengan tema kumpul-kumpul.

Terimakasih kepada Dwi sawung yang telah bersedia diwawancara juga memberikan feedback untuk tulisan ini

6 thoughts on “S(d)ukacita

  1. anggunoktari04 November 1, 2022 / 3:05 am

    Teeeh, bermanfaat sekali ini artikelnya. Terima kasih tipsnya. Walau jujur, sekarang memang kalau lihat kerumunan rasanya udah trauma tersendiri dan milih melipir menjauh saja.

    Semoga Alloh selalu melindungi dan memberi keselamatan untuk kita semua yaa.

  2. Shanty Dewi Arifin November 1, 2022 / 10:53 am

    Aku pun tipe orang yang kurang nyaman dengan kerumunan dimana personal space jadi terganggu. Rasanya sesak dan takut. Kayanya mending tetap mengusahakan untuk jaga jarak dan menghindari kerumunan yang berlebihan. Nice sharing Winda.

  3. srinurillaf November 1, 2022 / 12:50 pm

    Mamah Winda, terima kasih banget sudah mengangkat ini. Tragedi Itaewon ini sedang viral di mana-mana, saya cukup ‘lemah’ mengikuti beritanya, mengingat banyak yang meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi roji’un. 😦

    Saya jadi seperti membaca rekapan kasusnya, Teh Winda ehehe. Stampede, desak-desakkan, ternyata bisa sangat fatal akibatnya ya. 😦

    Terima kasih sudah memberi tips-tipsnya ya Teh, hal yang harus dilakukan ketika berada di situasi similar, meskipun ya Allah, semoga tidak perlu mempraktekkannya ya Teh. Semoga kita selalu dalam lindunganNya.

  4. admin November 1, 2022 / 5:05 pm

    Aku baru lihat foto di atas. Rupanya Itaewon itu berupa gang dengan sisi-sisinya tembok bangunan. Kirain cafe atau resto gitu, orang bisa masuk menyelamatkan diri. Terima kasih saran posisi tubuh kalau kerumunan. Tapi kaki harus kuat yah, supaya tidak tersandung. Celaka kalau jatuh deh….

  5. sunglow mama November 2, 2022 / 2:14 am

    Pas banget teh aku dengar berita duka dari itaewon saat perayaan Halloween ini dan bingung kenapa bisa kejadian. Ternyata jalannya menurun begini ya. setelah diterangkan jadi paham kenapa bisa ada yang meninggal. yang mirisnya kok aku dengar sampai orang sekitarnya tak acuh juga walau tahu ada yang mati. ini pelajaran buat semua. kalau ada perayaan, ngga harus selalu keluar rumah ke tempat ramai dan miris kalau malah berujung tragedi

  6. echaadista November 2, 2022 / 2:42 am

    Saya termasuk orang yang nggak suka berdesak-desakan. Kalau turun pesawat saja, saya hampir selalu turun di akhir-akhir karena tidak suka merasakan dorongan atau desakan dari belakang. Apalagi kejadian di Itaewon ini yang dorongannya nggak hanya dari belakang tapi juga kanan kiri depan. Mengerikan memang ya. Tapi kunci utamanya menang tetap tenang, karena kalau tenang otak jadi lebih bisa berpikir logis untuk mencari jalan keluar. Semoga di manapun nggak perlu lagi ada acara suka yang berubah duka gini ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s