Cinta Pertama #1

Waktu bel sekolah berbunyi, aku senang sekali dan berlari agar bisa segera pulang, tapi aku tak melihat motor vespa hijau, dibalik  pagar sekolah aku menunggu, dari pagar itu, aku bisa melihat jelas jalanan yang ramai dan berharap kedatangannya. Menjelang senja, halaman sekolah yang tadinya ramai telah sepi begitupun dengan para pedagang di pinggir jalan. Ada ketakutan terjadi apa-apa padanya yang membuatnya tak bisa menjeputku. Ada rasa lelah dan ingin pulang saja sendiri, tapi aku ingat janjinya: janji untuk menjeputku. Dan selama ini tak pernah diingkari janjinya: selalu ditepatinya. Aku menunggu, sampai kakiku pegal sekali, dan ketika aku melihatnya, aku bergegas keluar dari halaman sekolah menuju tepi jalan. Aku menekuk wajahku dan mengeluh karena telalu lama menunggunya… 😦 kemudian aku naik ke motornya. Tak terasa air mataku mengalir. Aku lega…pikiran burukku tak terjadi, aku memeluknya erat. Rasanya yang terekam memori hanya satu dua kali saja keterlambatannya menjemputku, sisanya… jauuuuuh lebih sering, aku yang membuatnya menunggu.  Kadang, memang datangnya jauh sebelum waktu pulang tiba karena tak ingin membuatku menunggu, kadang guruku memberikan quiz di akhir pelajaran dan barang siapa yang bisa menjawab dengan cepat boleh pulang lebih dulu dan aku tidak bisa menjawab dengan cepat, kadang ada kegiatan ekstra. Tapi tak pernah sekalipun kudengar keluhannya karena menunggu terlalu lama. Mengantarku dan menjemputku.

Aku menangis takut kehilangannya, terekam jelas dalam memoriku ketika kami berjalan-jalan bersama ke kota terdekat. Polisi memberhentikannya, tidak tahu kenapa, mungkin pengecekan biasa. Tapi aku menangis tak henti dalam fikiranku  aku takut  sekali polisi berbuat buruk padanya dan menahannya, saat itu aku masih belum mengerti tentang aturan tentang denda. Yang jelas, berurusan dengan polisi bukalah sesuatu hal yang menyenangkan dan aku tak mau terjadi sesuatu hal yang buruk padanya, saat itu aku tahu sangat mencintainya. Dan kemudian Ibuku bercerita, mengingatkanku di suatu masa : Aku selalu merindukan deru suara motornya. Ketika mendengar suara motor, aku bertanya, “Apakah Bapak yang datang?” Yeayy, Bapak dataaang, aku kegirangan. Kemudian aku berlinang air mata jika bukan Bapak yang datang. “Kemana Bapak?”

Ah ya,

Bapakku:

cinta pertamaku.

Tidak Dikategorikan