Manusia tak ada yang sempurna, termasuk cinta pertamaku.
“Kasihan sekali, Bapaknya galak” komentar dari keluarga besar seringkali aku dengar secara langsung.
Mungkin benar ada suatu masa, dimana aku merasa menjadi anak yang kurang beruntung dan ga suka sama Bapak. Masa ketika Bapak selalu mengatur kami, dan tidak mentolelir keengganan dan tangispun tak ada gunanya. Ketika Bapak memaksaku dan adikku untuk berjalan-jalan di minggu pagi meskipun kami merasa enggan karena ingin menonton tayangan kartun seperti halnya teman-teman sebaya kami. Ketika hari Sabtu menjadi hari libur, Bapak mendaftarkan kami dalam kegiatan ekstra bela diri di hari minggu dan menggeser jadwal jalan-jalan dihari sabtu padahal kami ingin liburan dari berbagai kegiatan. Ketika Bapak tetap mendorong kami ke pengajian sore sepulang sekolah padahal teman-teman sebaya kami telah berhenti mengaji , Bapak tak peduli anaknya telah beranjak remaja dan tak lagi punya teman sebaya di pengajian. Padahal ingin sekali bermain bersama teman sepulang sekolah ke mall, atau berkunjung ke rumah teman. Bapak tak peduli jika kami gagap berbincang tentang tayangan sinetron di televisi karena saat-saat sinetron prime time tayang, waktunya kami belajar bersama Bapak atau saling bercerita tentang kegiatan sehari-hari atau membahas isu terkini.
Aku mencoba mengingat bagaimana Bapak marah. Apakah bapak berkata kasar? Sepanjang ingataku tak pernah Bapak berkata kasar untuk mengkerdilkanku. Apakah Bapak pernah memukulku? Juga aku tak mengingatnya. Yang aku ingat aku sering menangis karena keenggananku dan kemalasanku mengikuti jadwal yang sudah diterapkan dan aku tidak bisa membantah Bapak karena Bapak selalu memberikan penjelasan yang masuk akal kenapa harus seperti ini-seperti itu .
Bapak yang galak, mungkin karena nada suaranya yang tinggi atau mungkin karena memang karena kedisiplinannya mendisiplinkan kami yang tak bisa diganggu gugat. Tapi kegalakannya itu tak membuatku sakit hati, setidaknya teringat sampai saat ini Yang terekam dalam memoriku;
Bapak yang galak, memaksa kami mengaji juga memberikan contoh kepada kami untuk mengaji bersama meski dengan terbata-bata. Bapak yang galak, yang melarang kami menonton televisi tetapi memberikan alternatif kegiatan bersamanya. Bapak yang galak yang menuntut kami untuk berlatih bela diri di hari libur tapi ikut mengantar dan menjemput kami terkadang menunggui kami, mengorbankan pula jatah liburnya. Bapak yang galak, yang menuntut kami untuk tekun belajar, tetapi membersamai kami dalam setiap prosesnya. Bapak yang galak, tapi aku tak takut untuk mengungkapkan isi hatiku dan mengungkapkan ketidaksetujuanku padanya dan aku juga tak takut mengkritiknya. Bapak yang galak, seringkali menciumku lamaaa, pipi kiri dan kananku sampai aku meronta dari pangkuannya, bahkan minta bantuan dari Ibu membebaskan aku dari ciuman Bapak. Bapak seringkali minta “dienyo heula” yang artinya di sun dulu, sampai pipiku tak segembil dulu.
Rasa cintanya yang kurasakan, menghapus julukan Bapak galak yang disematkan orang-orang padanya. Bapak malah seringkali bercanda dan menggodaku untuk tertawa. Bapak yang terkenal galak ini, lebih sering membuatku tertawa daripada menangis 🙂
dan aku tahu,
Bapak yang tampak galak dan kokoh dari luar, sangat lembut hatinya, seringkali tak bisa menyembunyikan tangisnya karena merindukan putrinya.