Sudah setahun tinggal di Jerman, saya masih saja ceroboh meninggalkan barang berharga di mana saja. Dimana kalau di Indonesia, semua kecerobahan saya akan berujung pada kehilangan 😦 Saking seringnya kehilangan, saya sampai pada suatu titik dimana apapun yang saya miliki sejatinya bukan milik saya, karena akan ada saatnya saya kehilangan itu semua 😦
Belum lama ini saya kehilangan dompet saya dan saya tidak sadar terakhir kali memakai dompet itu sehingga tidak bisa mencari kembali ke tempat terakhir saya kehilangan dompet, bahkan waktu kehilangannya saja saya tidak tahu. Jadi, akhir-akhir ini saya seringkali ketinggalan dompet, ketika saya perlu uang dan mengcek ternyata tidak membawa dompet, saya sempat berfikir kalau saya meninggalkannya di kamar dorm ternyataaaa…pas dicari di kamar juga ga ada T__T Yang pertama kali dilakukan adalah: menghubungi lost and found uni dan city, karena saya mikirnya antara universitas atau dimanapun di kota ini bukan di toko atau pas naik kendaraan. Kalau kehilangannya di toko atau transportasi umum bisa menghubungi customer cervicenya. Meskipun ada harapan untuk bisa menemukan dompet itu, tapi setelah berhari-hari ternyata ga ada kabar dari lost and foundnya. Jadi akhirnya mulailah saya mengurus segala macam perkartuan seperti kartu ATM dan mengingat ujian akan segara datang, saya perlu kartu ID student juga belum tentu kalau dinanti-nati saya masih punya waktu.
Jadi, untuk mengurus kartu bank, datanglah saya ke bank [yaiyalah] tadinya mau nanya dulu kalau ilang kartu dan minta baru persyaratannya apa aja. Taunya pas datang dan bilang ilang kartu langsung diproses tanpa tanya surat kehilangan ataupun fotocopy identitas cuman ditanya nomer rekening aja. GA pake ribet. Kartu akan dikirimkan beberapa hari lagi. Ohyah, kalau disini apa-apa (segala macam kartu bahkan minta SIM card baru dikirim langsung ke alamat). Terus buat ID juga cuman bilang ilang IDnya, terus disuruh bayar 10euro terus jadideh. Kalau difikirkan kok bisa yaa semudah itu, mereka percaya aja, ga perlu pakai bukti kehilangan. ya iyalah, orang juga males kali ngaku-ngaku ilang kartu. Terus kenapa di Indonesia asasnya ketidak percayaan? Harus dibuktikan dengan surat kehilangan dari kantor polisi agar percaya bahwa kita kehilangan sesuatu juga harus disertai fotocopy identitas diri.
Dan ternyataaa… sehari setelah saya mengurus segala macam surat, saya mendapatkan email dari sekertaris jurusan kalau dompet saya ditemukan di perpustakaan institusi yang kerjasama sama uni. Terus pas saya mau ambil dompetnya, ternyata dompetnya disimpen di brankas gitu: yang nyimpenin ga nanya identitas, atau nanya bukti kalau saya si pemilik dompet. Percaya aja ngasiin dompetnya. Lagian kalau difikir-fikir disini mana ada yang mau ngaku-ngaku barang yang bukan miliknya. Jadi asas kepercayaan ini bisa diterapkan ketika setiap individu itu jujur.
Jadi baper banget abis sempet ilang dompet sementara dan ketemu lagi utuh. Kenapa dengan asas kepercayaan di Indonesia? Kenapa memilih menerapkan asas kecurigaan? Karena sebagian besar orang ga jujur T___T kenapa ga jujuuuur?
well, mungkin saya juga harus evaluasi diri sendiri:
sejauh mana saya sudah jujur
dan bisa dipercaya.