Kata pulang selalu bergema beserta harapan. Harapan untuk kembali berkumpul dengan orang-orang terkasih yang selalu menantikan hadirnya dan menyambut dengan pelukan serta senyuman kadang tangis bahagia, menjadikannya begitu teristimewa; penerimaan tanpa prasyarat.
Kata pulang selalu bertalu-talu bersama kerinduan. Rindu akan udara yang hangat penuh keceriaan, canda yang mengudang tawa. Rindu perbincangan kisah sehari-hari yang penuh keterbukaan dan kejujuran: baik-buruk. Juga rindu untuk hadir; mendengar segala keluh, meringankan beban yang menghimpit juga membersamai dikala kondisi yang sulit.
Kata pulang selalu bergaung seiring dengan kecemasan. Cemas akan waktu-waktu teristimewa yang tidak dijalani bersama, akankah waktu merubah rasa rumah, tanah air serta manusianya. Kecemasan itu menyergap karena boleh jadi tak ada kesempatan untuk sebuah pertemuan atau tak ada waktu untuk kembali.
Kata pulang berkumandang serentak bersama kata tanya
Kapan?
Kapan?
Kapan?
*Kapan pulang ini pertanyaan wajib Bapak, kalau lagi sesi skype T___T
*Dalam rangka mengantarkan kepulangan seorang teman kembali ke tanah air
