Untuk temanku tersayang

Temanku tersayang yang sangat baik, pintar dan manis, apa kabarnya? Sudah lama yaaa kita tidak berbincang. Aku mendengar kabar itu, tak hanya dari satu dua orang saja. Ingin sekali mendengar cerita itu langsung darimu, bagaimana perasaanmu? Andaikan aku ada disana… Rasanya sudah terlambat sekarang. Jika aku berada disampingmu sejak awal, sejak masalah ini belum menjadi masalah besar dan menjadi masalah bersama akan kuceritakan rahasiaku.

Tak ada yang aneh dengan kebaikannya selama ini karena diapun melakukan kebaikan yang sama kepada yang lain, tak ada pula yang aneh dengan perhatiannya karena begitu perhatian terhadap yang lain. Ya, tak ada yang berbeda sampai dia menawarkan cinta. Bagaimana bisa?! Jujur aku ingin menangis saat itu: betapa kurang pekanya aku. Dia mengakui perasaannya yang katanya sudah tak tertahankan. Tidak. Tentu tidak kuterima tawarannya.Tak mungkin menjadi istri kedua, pun jika menceraikan istrinya aku tak mau. Tidak. Tak mengapa dia mau menghubungiku berkali kali, aku tak membalas. Terserah dia menyimpan cinta itu atau memupusnya, aku tak peduli. Terlihat tak berperasaan:Ya. Tapi, itu kulakukan justru karena  perasaan kasihku yang besar pada keluarganya: istri dan anak-anaknya juga demi kebaikannyan pula. Mungkin kamu bertanya kenapa aku tidak merasa tersentuh, rasa cinta itu bukan dia yang mau…bukan salahnya untuk memiliki rasa itu, tapi aku berfikir jika rasa itu ujian buatnya dan ujian buatku juga untuk konsisten tidak membalasnya.  Jadi aku meminta bantuan Allah untuk mengembalikannya pada keluarganya dan meneguhkan hatiku.Pada akhirnya kisah itu berakhir tanpa drama: hanya menjadi masalah aku dan dia saja. Setelah kisah ini, masih ada kisah lain, tapi pengalaman guru yang terbaik, sebelum seseorang  yang beristri menyatakan cintanya aku berbicara terbuka tampaknya ada yang aneh, apa kebaikan yang dilakukannya padaku dilakukannya pada sahabat perempuannya yang lain? Ketika jawabannya tidak, maka sudah saatnya menarik diri. Merenggangkan hubungan untuk sama-sama menjaga diri meski kita hanya bersahabat. Jadi pencegahan sesungguhnya sangat mungkin dilakukan.

Ketika tawaran cinta dari lelaki beristri datang, aku selalu teringat pesan Ibuku. Pesan yang selalu diulangnya: apapun yang diusahakan lelaki, perempuan itu yang memegang kunci. Jika teguh untuk tidak tergoda dan menolak tegas,  sekeras apapun lelaki berusaha tak akan bisa. Jangan sampai membuat perempuan lain tersakiti, selalu ingat untuk memposisikan diri bagaimana jika kita berada di posisi yang tersakiti.

Sebenarnya aku tak mau menguak lagi kisahku.. tapi karena aku sayaaaaaang sekali padamu. Bukan bermaksud menyalahkanmu, tentu aku mengerti. Kita perempuan, dimana perasaan seringkali berbicara. Apalagi, dia sudah teruji bagaimana menaklukkan hati wanita dan bagaimana memperlakukannya. Yang bermula dari rasa tak suka saja bisa jadi cinta, apalagi yang memulai dengan rasa simpati, sahabat, ataupun istilah teman dekat. Aku tahu, dalam kesendirian tak mudah ketika seseorang menawarkan apa yang selama ini kita nantikan, merasakan apa yang selama ini kita dambakan. Apalagi rasa itu murni dan tulus, mungkin lelaki itu meyakinkanmu. Berat memang menampik itu semua, tapi akan lebih berat lagi dengan konsekwensi tuduhan menjadi penyebab putusnya hubungan pernikahan seseorang. Tentu, bukan, bukan salahmu, bukan salahnya. Bukan karena hadirmu permasalahan  muncul dalam rumah tangganya.  Tapi sayang, tidakkah kamu berfikir, jika dia benar-benar mencintaimu dengan tulus, dia akan menuntaskan permasalahan rumah tangganya terlebih dahulu tanpa perlu menyeretmu ke dalam pusaran masalahnya.Tak perlu merasa bersalah atas masalah yang menimpanya karena  sejak awal  masalahnya ada mereka bukan pada kamu. Jika ada permasalahan, mengapa mencari solusi diluar masalahnya dan mengapa melibatkan seseorang di lingkar terluar dari inti permasalahan.

Namun, lain halnya jika memang kamu mau terlibat di pusarannya  dan menerima segala tekanannya. Ah, tak  ada yang bisa lagi membantumu sayang selain dirimu karena ketika rasa itu sudah menguat, kamu akan tak peduli apa pendapat orang, apa saran orang-orang yang mencintaimu.Tak ada ruang untuk logika karena fikiranmu sudah terkuasai perasaan; hanya pendapat lelaki itu sajalah yang kamu dengar. Tapi sayang, sungguh kamu masih punya pilihan.  Yakin pada Allah. Ini hanya ujian. Kita bersama sama memohon kepada Allah agar lulus ujianNYA. Jodoh sudah digariskan, cara untuk menjemputnya yang bisa diusahakan. Berat memang, tapi namanya ujian tak pernah mudah.

Aku menyakini bahwa pernikahan adalah salah satu bentuk ibadah maka usaha menuju sana diupayakan dengan jalan yang baik. Kamupun memiliki keyakinan yang sama bukan? Sekali lagi, aku hanya berharap yang terbaik buat kamu.

Yang mendoakan kamu selalu,

teman seperjuangan yang sayang padamu

Tidak Dikategorikan