Di suatu rentang waktu yang singkat

“Apakah besok ada waktu?”

Sebuah pesan masuk, dari teman yang sedang berjuang di akhir masa studi di Groningen Belanda. Serba mendadak, karena begitu drat draft thesisnya disubimit,  saat itu pula, dia memutuskan untuk main ke Stuttgart, sebelum pulang ke Indonesia 😀 itu pun hanya satu hari maksimal karena visa tinggalnya yang habis di akhir bulan November sehingga harus segera kembali ke Belanda. Semua itu, dilakukan untuk memenuhi sebuah janji: bertemu sebelum pulang ke Indonesia. Tentu saja, untuk seorang teman semacam ini,

selalu ada waktu^^

Delapan setengah jam perjalanan dengan kereta api, plus tambahan beberapa jam karena stasiun terlewati, sehingga harus membeli tiket tambahan untuk kembali ke stasiun yang dituju. Lelah, sudah tentu. Apalagi begitu sampai di Stuttgart, si saya guide yang buruk… tanpa perencanaan yang matang akan kemana sehingga tak mengunjungi banyak tempat, lebih banyak beralih dari satu stasiun ke stasiun yang lain .___.

Sang teman menghibur, katanya ga apa-apa karena bukan untuk mengunjugi tempat tetapi hanya menginginkan sebuah pertemuan, berbagi cerita. Tentu saja, rasanya bahagia bertemu dengan teman lama, juga merasa spesial karena bela-belain menempuh perjalanan panjang untuk sebuah petemuan singkat. Total perjalanan 24 jam, sedangkan total pertemuan  14 jam. Tapi waktu itu relative bukan? Singkat atau panjang  waktu tak mendefinisikan seberapa banyak kenangan atau memori yang terekam.

Di satu rentang waktu yang singkat, ada impian yang melangit ditengah langkah yang membumi, ada hati yang menghangat di tengah temperatur minus derajat.

Ada seorang teman, yang selalu ada di setiap waktu,

walau jauh,

tetap bertaut di hati.

 

Untuk semua kenangan indah,

terimakasih banyak

 

Tidak Dikategorikan