menikam rasa ingin mati

Seseorang teman mengirimkan link dari blog http://liquidkermit.net/ yang menceritakan pengalamannya menghadapi rasa depresi dan  ingin mati.  Baru baca beberapa paragraf di tulisannya, air mata saya tak tertahan. BUNUH DIRI.

Tak pernah terlintas sedikitpun untuk melakukan hal itu. Saya memiliki keluarga yang sangat mencintai saya juga teman-teman yang menyayangi dan bertemu dengan orang-orang yang baik. Juga, sebenarnya saya tak dirundung ujian diantara hidup dan mati atau ujian yang tak tertahankan di luar batas kemampuannya sehingga berfikir mati lebih baik daripada hidup. Hidup saya lebih banyak tawanya daripada tangisnya. Saya bersyukur sekali bisa hidup dan merasa takut untuk mati mengingat perbekalan saya yang masih sedikit.

itu  dulu.

Dengan air mata berlinang… perlahan, saya membaca semua artikel dalam blognya http://liquidkermit.net/bunuh-diri/ saya terkejut hampir semua ciri-cirinya ada pada saya. Sebelumnya, saya secara terbuka saya berbicara dengan teman dekat saya tetang perasaan saya: Saya merasa depresi dan tidak bahagia. Seringkali menangis tanpa alasan. Saya yang hobi sekali tidur terkadang menjadi sulit tidur,  seringkali merasa diri ini tidak berharga dan merasa bersalah karena tidak menunaikan tanggung jawab saya dengan baik juga karena saya tidak ada di samping keluarga ketika mereka membutuhkannya. Awalnya saya mengira ini, hanya gejala homesick saja karena baru pertama kalinya saya jauh dari keluarga dalam rentang waktu yang cukup lama. Tapi sudah setahun lebih. Tetap lebih banyak tangisan daripada tawa.

Sampai…

Astaghfirullah.. sempat terlintas untuk MATI saja.  Meskipun hanya lintasan pikiran,  tapi saya tahu ada yang salah dengan diri saya. Saya merasa benci dengan diri saya sendiri. Bagaimana mungkin? sempat terlintas seperti itu. Bukankah lebih banyak nikmat yang patut disyukuri…bahkan seringkali saya mendapatkan pesan yang bilang “enak yaaa kamu….” Semakin difikirkan, saya semakin tidak bisa mengidentifikasi darimana rasa itu berawal, mungkin karena jauh dari keluarga, mungkin karena saya tidak menunaikan dengan baik apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab saya, mungkin karena keimanan saya yang sedang melemah, mungkin karena saya tidak lagi bisa melakukan apa-apa yang saya suka.

Tapi yang pasti… saya merasa hidup, hanya sekedar hidup, yang tau-tau hari-hari sudah berganti. Tapi apa yang saya lakukan?

Kemudian sang teman yang mengirimkan link berkata, “aku ga sadar kalau aku depresi kak”. Oh, ya ampuuun, ternyata saya tak sendiri… mungkin bisa jadi mungkin, saya mengalami perasaan seperti ini agar saya bisa bersama-sama teman saya saling membantu dan menguatkan untuk melewati semuanya. Untuk itu, saya punya alasan kuat untuk tetap hidup.

Berulang kali saya meyakinkan diri bahwa  kehidupan ini sangat yang berharga, bahkan  mungkin lebih dari jutaan orang berjuang utuk tetap hidup dari ancaman kematian.

yang merindukan saya yang dahulu,

yang sangat bahagia dan ceria.

Tidak Dikategorikan