Homeless

“Kejam yah Stuttgart”, komentar teman yang pernah mukim beberapa tahun di salah satu kota termahal di Jerman ketika tau saya  tak kunjung mendapatkan kamar di asarama. Bukan tak mencoba berusaha mencari kamar di luar asrama, sebelum datang ke Jerman sudah mencoba mencari tempat tinggal dari berbagai link yang disarankan, mengirimkan puluhan email,tapi tidak mendapatkan tanggapan positif, oh ada sih satu email yang membuat saya melonjak kegirangan karena akhirnyaaaa… ada juga yang mau menyewakan kamarnya kepada saya, tapi anehnya dia lagi ga di Jerman tapi lagi kerja  di India, dan dia akan mengirimkan kucinya melalui pos setelah saya transfer sejumlah uang. Masalahnya, saya seringkali ga bisa buka kunci -bahkan kadang kesulitan buka kunci rumah  orang tua sendiri, kamar kosan sering ga dikuci- jadi saya takut pas saya dateng ke Jerman, terus saya ga bisa buka kuncinya, terus ga ada orang yang bisa dimintai tolong. Kalau di Indonesia sih tinggal telpon aja kalau ga bisa buka kunci. Karena keraguan saya itu, dibantu sama seseorang, ketauan malah dia penipu. dan modus kaya gitu -kerja di luar jerman, minta ditransfer uang dulu- udah biasa jadi templete penipuan mereka dan banyak student yang ketipu 😦

Jadilah, saya memesan hostel untuk beberapa hari sembari pas sampai saya melanjutkan percarian tempat tinggal.pas di bandara iseng-iseng cari kamar di airbnb, yang ternyataaa baru ada yang pasang iklan kamar yang dideket asrama. Langsung aja saya minta temen buat bookingin, karena khawatir ga bisa komunikasi sama yang nyewain selama saya dipesawat, sama mengcancel hostel yang udah dipesen.

Kamar pertama yang enakeun dan bikin betah kalau ga inget harga

Yeaaaayyy! Rezeki banget dapat kamar di apartemen kawasan universitas -meskipun sementara- karena ratenya lumayan mahal, seminggu disana sama kaya biaya sebulan tinggal di asrama _ _’ Karena kesotoyan saya, yang mengira seminggu cukup untuk pencarian tempat tinggal, ternyataaa misi saya gagal 😦 Stuttgart dikenal sebagai kota yang sulit akomodasinya untuk mahasiswa karena harus bersaing dengan para karyawan industri-yang bikin akomodasi disini super mahal. Juga selain karena kedatangan banyak pengungsi yang bikin ketersediaan akomodasi menjadi terbatas. Untungnya saya ditampung sama orang baru dikenal, Elma yang tinggal di apartemen sebelahan dengan apartemen tempat saya menyewa kamar dari air bnb, muslimah Yugoslavia yang sudah tinggal di jerman selama 16 tahun . Maka pindahlah saya dengan koper segede gaban ke ruangan keluarganya dan tidur di sofanya yang nyaman untuk seminggu. Asyiknya tinggal sama keluarga ini, saya ga perlu membayar apapun, plus saya disediakan sarapan juga makan malam =) tapii seenak-enaknya tinggal di rumah orang bikin ga enak yang punya rumah, orang rumahnya kasian karena saya butuh proper room for study not a living room. Ga enaknya saya, gimanapun, mereka ga bisa seenaknya nonton sampai malem bgt karena saya kan tidur disitu =( yaa udah usaha nyari tempat tinggal, mulai menyebarkan email, dibantu sama Elma tentunya, memprint pengumuman pencarian kamar untuk ditempel di papan pengumuman universitas dan sekitarnya sampai menempel pengumuman di papan pengumuman supermarket. Tapi malah ketemunya sama pengalaman buruk-untungnya didampingi Elma yang tegas dan galak bilang ke mereka yang nawarin kamar-shared dengan orang lain tanpa fasilitas yang memadai, we searching for proper room with contract, she student need to study. Meski si orang itu bilang gini gitu, elma bilang NO.NO.NO sambil melarikan diri. Rumah pertama sih normal dari luar, kalau rumah kedua, udah ga normal dari luar, sekilas ngeliat postboxnya penuh dengan nama-nama, aku bilang ke Elma, kok banyak banget orang di postboxnya, pas ngelewatin rumahnya, kaya ngelewatin rumah gengster yang kelam, banyak lelaki bergerombol, puntung rokok bertebaran.. begitu masuk rumahnya, lantai satu penuh dengan orang-orang China, lantai dua penuh dengan orang-orang timur tengah, lantai tiga tertutup kemudian sampai di attic, yang ternyata di kamar sudah ada dua orang perempuan. Kamarnya cuman ada dua tempat tidur dimana satunya tempat tidur tangga, jadi satu kamar muat tiga orang. Kontan aja kita syock. Soalnya ga dibilangin kalau shared room! Dan lagi semua kamar-kamar ini harganya ga dibawah standar, menurut Elma ini harga normal buat sebuah kamar yang ditempati sendiri. Kedatangan gelombang pengungsi menjadi penyebab melonjaknya harga sewaan, menurut Elma. Akhirnya diputuskan demi keamaan untuk mencari kamar di sekitaran asrama atau ditempat yang menurut dia aman untuk ditinggali.

IMG_20151029_111938
Mencari kamar

Ohyah, pencarian terus berlanjut bahkan dalam sebuah acara pengajian tahunan kota Stuttgart, Elma minta panitia untuk memberitahu MC mengumumkan bahwa ada mahasiswa Indonesia yang nyari kamar untuk tinggal. Ada yang merespon, tapi laki-laki yang bersedia menshare kamarnya. Hahaaa, terus disarankan sama dia  buat nyari temen yang bisa nampung sementara dikamarnya sambil nunggu kamar asrama. Elma udah dapet sih kumpulan mahasiswa Turki yang mau nampung, tapi dia kasian kalau si sayahnya ga nyambung sama mereka sementara mereka ngobrol dalam bahasa Turki satu sama lain.

Saya mengontaksalah satu mahasiswa yang juga baru dateng ke Jerman yang pernah saya kontak sebelumnya bertanya tentang tempat tinggal, baiknya Wirda menawarkan tinggal bersama di kamarnya. Pindahan lagi untuk yang ketigakalinya dengan barang bawaan yang bertambah, selain koper super duper gede, saya dibekali Elma dengan kasur lipat, selimut, bed cover, bantal, perlatan masak, perlatan makan, teko, bahkan bumbu-bumbu. Untungnya Elma membantu mengantarkan saya dengan mobilnya. Jadi saya tinggal membawa semua barang ke lantai 4! Sementara Elma memindahkan barang dari mobil ke gedung. Hampir sebulan saya berbagi kamar.

25 november, salah satu teman satu asrama memulai liburan natalnya ke Poland sehingga saya bisa menempati kamarnya selama hampir sebulan setengah dengan gratis. Baiknya Aleksa, dia bilang mungkin kamu butuh privasi dengan punya kamar sendiri. Kamarnya terletak setengah lantai diatas dari kamar Wirda. Saya suka kamarnya, kasurnya yang empuk-karena dia membeli kasur sendiri bukan menggunakan kasur asrama, wangi aromterapi kamarnya. Pindahan kali ini, barang saya sudah bertambah dengan lungsuran dari Teh Rahmi yang pulang dari Indonesia.

IMG_20151216_084646.jpg
Pemandangan dari kamar Aleksa di lantai 4

Selama itu, saya tetap berusaha mendapatkan kamar sendiri, mengikuti berbagai grup asrama mahasiswa di facebook, disini mahasiswa yang tinggal di asrama boleh menyewakan kamarnya selama 3 bulan kepada mahasiswa lain, istilahnya, untermitte. Selain mendaftar melalui internet, saya mendatangi setiap penanggung jawab asrama (hausmaster) untuk bertanya apakah ada kamar yang bisa ditinggali di bulan Januari. Saat itu, salju turun, pintu hausmaster di salah satu asrama masih tertutup padahal sudah waktunya buka, beberapa lelaki bergerombol, saya mengikuti antrian. Menggigil dalam penantian, ya saya memilih untuk tidak mengikutsertakan diri dalam gerombolan, terdengar celotehan para lelaki itu bagaimana sulitnya mendapatkan kamar, salah seorang bilang begitu bertemu hausmaster dibilang Noroom, no room padahal dia bermaksud untuk menyewakan kamarnya. Tawa membahana, dalam diam saya berzikir. Untuk dapat menerima dengan lapang apapun hasilnya, karena saya tahu sulit mendapatkan kamar di rentang bulan Januari-April, untuk senantiasa diberikan kekuatan berjuang. Akhirnya saya tau, lelaki yang bergerombol itu bermaksud untuk menyewakan kamar dan datang bersama yang akan meyewa. Tidak ada ruang, buat saya. Meski pintu telah terbuka, gerombolan lelaki memenuhi ruangan, saya menunggu giliran di luar ruangan, saat itu seorang perempuan pirang datang, saya tersenyum padanya, bertanya apakah dia mau mencari kamar, ternyata dia mau menyewakan kamar. Saya tanya buat kapan, dia menjawab buat Januari sampai Maret. Rasanyaaa, hati saya menghangat. Alhamdulillah ya Allah, akhirnyaa saya bisa menempati kamar sendiri, meski cuman untuk sementara.

Yeayyy, meski di kontrak saya bisa tinggal bulan Januari, tapi Lisa sudah  pindah dari kamarnya sejak 22 Desember, maka mulailah saya pindahan ke kamar baru saya, terletak 10 menit jalan dari asramanya Wirda dan Aleksa. Alhamdulillahnya di lantai satu jadi cuman perlu usaha nurunin barang aja. Karena pindahannya nyantai jadi saya bisa mencicil barang-barang setiap hari. Ga sekaligus pindahan. Asyiknya tempat baru ini lebih dekat dengan halte bis menuju tempat perkuliahan di sebuah institusi penelitian di Jerman. Terus enak karena seperti rumah yang hanya terdiri dari 4 orang penghuni dan punya satu bathroom dan satu toilet, gudang, tempat penyimpanan barang dan dapur serta tempat makan yang cukup luas. Karena lagi musim ujian,saya jarang ketemu sama 3 orang penghuni asrama yang lainnya. Jadi sepiiii banget asramanya, berasa rumah sendiri. Di asrama ini, karena penghuninya sedikit jadi dapet giliran buat bersih-bersih tiap minggunya, entah itu piket buang sampah dan bersihin dapur, bersihin toilet, bersihin bathroom atau bersihin hallway.

Kamar  yang saya tempati selama 3 bulan di musim dingin

Setelah, menyewa kamar, saya masih juga belum dapet kamar yang agak permanen, tadinya saya mau menyewa kamar dari mahasiswa lainnya, tapi Aleksa kembali menawarkan kamarnya yang kosong karena ditinggal berlibur ke  ke Amerika selama sebulan. Yang saya iyakan, tentunya. Ada episode dimana saya ga punya kamar sama sekali, tapi ada juga episode diamana saya punya kunci kamar lebih dari satu. Kamar di asrama deket halte, kamar Aleksa dan kamar Hajrah (yang juga menawarkan kamarnya karena dia berlibur ke Itali).

Kamar Aleksa hanya bisa ditempati selama satu setengah bulan, setelah itu Claudia dari Spain yang satu asrama dengan wirda juga menawarkan kamarnya untuk ditinggali hanya sementara sampai Agustus, segalanya sempurna karena setelah pindah dari kamar Aleksa saya bisa langsung pindah satu lantai ke kamarnya Claudia. Kemudian,  teman Indonesia yang tinggal di luar asrama menawarkan kamarnya karena dia akan pulang jadi saya punya kesempatan tinggal secara lebih permanen. Masalahnya, daerahnya itu yang Elma ga setuju. Sempat terpikir diam-diam pindah tanpa sepengetahuan Elma,  karena saya suka banget kamarnya didalamnya sudah ada dapurnya. Tapinyaaa tanpa saya duga, alhamdulillah akhirnyaaa… saya mendapatkan tawaran kamar dari Studentenwek selama tiga tahun, arrrgggg… bikin galau ajaa…. Ah, drama banget lah, masa-masa ini. Bahkan melibatkan banyak orang dalam kegalauan saya. Masing-masing punya nilai positif dan negatif soalnya.  Setelah kegalauan melanda, saya memutuskan untuk tinggal di asrama yang disediakan Studentenwerk selama tiga tahun.

Kenapa saya berceritaa panjaaang tentang perjalanan saya pindah-pindahkamar, karena ga semua orang punya pengalaman kaya saya dalam rentang 7 bulan sudah berpindah kamar sebanyak 8 kali!!!  Rata-rata, temen-temen dari Indonesia sudah punya tempat tinggal yang permanen sewaktu datang ke Jerman. Setelah penantian lama, saat saya pindah ke kemar permanen saya, saya ga suka, saya ga betah. Hikshiks.

Pindah lagi?

Home is behind, the world ahead,
And there are many paths to tread
Through shadows to the edge of night,
Until the stars are all alight.
Then world behind and home ahead,
We’ll wander back and home to bed.
Mist and twilight, cloud and shade,
Away shall fade! Away shall fade!

(J.R.R. Tolkien, The Fellowship of the Ring)

Tidak Dikategorikan

Tinggalkan komentar