Goodbye :)

“Winda, I must going back to Singapore tomorrow” diikuti dengan isakan. Sejenak sel-sel diotakku buntu, tak bisa berfikir. Lidahku kelu, tak tahu harus mengeluarkan reaksi semacam apa. Pulang. Yah, pulang tiba-tiba. Mesti ada kejadiaan di luar dugaan. Perlahan otakku kembali berfungsi, “Why?”

My brother has passed away

Duka. Yah, seketika akupun disergap duka. Meskipun tidak pernah mengenal saudaranya. Namun, aku tahu, suatu hari aku akan kehilangan..tapi rasanya, kapanpun itu, tak akan pernah siap ketika masanya tiba..apalagi ketika terpisah jarak ribuan kilometer.

Seributanya kenapa aku pendam. Aku meyakinkannya semua akan baik-baik saja selama dia meninggalkan pelajaran, aku berjanji mengirimkannya catatan, mengatur ulang jadwal  percobaan di lab… “don’t worry” kataku… tapi dalam lubuk hati aku menghawatirkannya,… ingin sekali memeluknya erat.

Winda i am back. Thank you so much for helping me out with school,……”

yeah, she come back as nothing has happen. she is cheerful as always. Ketika kami hanya berdua, akhirnya aku bertanya padanya… tentang Singapura yang selalu hujan setiap harinya, tentang dia yang kurang enak badan selama seminggu disana, juga  ketika sesampainya disini harus kembali beradaptasi dengan udara yang masih juga dingin. Sampai cerita..tentang saudaranya.

He comitted suicide

Saudaranya bunuh diri dengan gantung diri di kamarnya serta ucapan “Goodbye 🙂” dengan darahnya. Sebetulnya, dia sudah melakukan usaha bunuh diri berkali-kali, memutus urat nadinya, lompat dari gedung tapi selalu berhasil di gagalkan. Orang tuanya tak menceritakan usaha bunuh diri saudaranya  karena khawatir mengganggu studinya.  Jauh, sebelum berangkat ke Jerman saudaranya sudah depresi karena studinya, tapi berangsur membaik. Namun ketika dia di Jerman, depresi saudaranya semakin bertambah parah.

Sebelumnya, temen ini pernah cerita bagaimana kehidupan perkuliahan di Singapura, untuk menghadapi ujian mereka tidak tidur berhari-hari, juga banyak yang bunuh diri karena dapat menerima kegagalan padahal segala daya dan upaya sudah dikerahkan. Namun, saudara temen ini  masih sangat muda. 17 tahun. ya, masih SMA-yang kalau di Indonesia masa-masa paling indah-.   Katanya adiknya ini sudah belajar dengan sangat-sangat keras,  meminta asistensi atau turorial ketika merasa ketinggalan, tapi tetap saja ada ujian yang gagal. Kepala sekolahnya mengetahui adiknya depresi, hanya saja beberapa hari sebelum meninggal, kepala sekolahnya malah bilang adiknya untuk keluar saja dari sekolah..(gimana ga tambah depresi coba T___T).

 

“That is why, we released his ashes in the sea… so we hope he will be free”

“We wanted him to be happy”

 

 

Tidak Dikategorikan