Cintanya Bude

Keriput telah memahat tak hanya wajah tapi juga tubuhnya tapi  tak mampu menggerus sifatnya yang hangat. Saya baru saja mengenalnya, tapi mungkin, sesosok lelaki yang terbaring di ranjang rumah sakit itu, dulu merupakan lelaki yang gagah , sehingga dapat meyakinkan gadis yang berusia 46 tahun,  untuk berkata “ya” sejak di pertemuan pertama untuk kemudian menikah empat hari setelah pertemuan tersebut. Sungguh saya takjub, “Bagaimana keyakinan itu bisa tumbuh hanya sekejap?” Beliau menjawab, “Keyakinan dari Allah, entah mengapa sebelum-sebelumnya saya selalu menampik para pria. Saat itu.. langsung ya, mungkin karena Pakde usianya lebih tua dan bisa ngemong”. Saat bermusyawarah untuk menikah, orang tua  sempat bertaya ,”Dia tak bisa masak, bagaimana?” Pakde (maksudnya calon suaminya saat itu)  menjawab “Tenang akan ada pembantu, saya pembantunya”. Kenangan enam belas tahun silam tampak seperti kemarin baginya, bagaimana sehari setelah syah sebagai suami istri , harus berpisah di benua yang berbeda selama dua tahun”Sampai saya lupa, kalau saya sudah punya suami”, kenangnya sambil tertawa. Tak mudah, awal kehidupan pernikahan yang tak mudah karena harus beradaptasi dengan berbagai hal yang asing, namun suami menguatkannya. Tak jarang dalam ceritanya, memuji kelebihan sang suami yang berbeda usianya 15 tahun lebih tua.

Dua tahun lalu, Pakde sama sekali tak bisa apa-apa, ingatannya hilang sama sekali. Alzheimer, katanya. Sekarang, Alhamdulillah sudah bisa berbicara, sudah mulai mengingat. Jadi setiap hari Bude ke rumah sakit? “Iyaa, setiap hari menemani Pakde”. Sesungguhnya tempat itu tak layak disebut rumah sakit tapi lebih kepada rumah peristirahatan yang setiap koridor digantung berbagai lukisan, bunga di setiap lorongnya terang karena banyak kaca jendela yang besar. Setiap orang memiliki kamar tersendiri, berbagi kamar mandi yang luas dengan satu orang tetangganya. Kamar yang cukup luas dengan tempat tidur menghadap ke sebuah jendela yang besar dengan pemandangan perbukitan dan kota, sebuah televisi  dan dua kursi tak jauh dari jendela. “Seperti tinggal di hotel ya,” kata Bude. Saya sepakat mengaminkan. Kemudian lengan yang lemah itu, menggenggam tangan, sambil berkata… Oh saya tak bisa mengangkap perkataannya dengan jelas 😦 untungnya ada Bude yang menterjemahkan… sembari menggenggam tangan Pakde… dengan sabar mengulang, menjelaskan hal yang sama berkali-kali. Tak terasa air mata mengalir ketika Bude membimbing Pakde untuk tayamum dan sholat. Tak mudah, bagi Pakde untuk hanya sekedar mengusap tangan ketika tayamum. Tak mudah juga untuk Bude terus mencontohkan, memberi intruksi, terusmenerus. Sholat yang hanya butuh waktu bilangan menit menjadi…. berpuluh menit. Tak mudah bagi Pakde untuk mengulang bacaan, juga tak mudah bagi Bude untuk terus melafalkan bacaan sholat, terus membimbing. Ditutup dengan doa yang panjang tak hanya untuk Pakde atau Bude sendiri, tapi untuk kami, seluruh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia.

Dua tahun hidup dalam sunyi. Mestinya cukup bagi Bude untuk mengeluhkan berbagai kondisi tak ideal. Sendirian,  setiap hari, menjenguk ke rumah sakit di jam besuknya, melamatkan doa-doa panjang tak jarang disetai tangisan panjang , memeluknya, berbaring disisinya. Tapi tidak, tak ada keluhan sepanjang permbicaraan, malah banyak rasa syukur yang terpanjat.   Alhamdulillah, ga perlu bayar biaya perawatan Pakde karena tercover asuransi. Alhamdulillah Pakde dapat pensiun. Alhamdulillah, rumah sakitnya bagus. Alhamdulillah dapet rumah yang murah dekat rumah sakit. Alhamdulillah, sekarang sudah mulai bisa berbicara, sudah mulai mengingat. Alhamdulillah, Pakde banyak temannya, banyak yang jenguk. Alhamdulillah, banyak yang mendoakan. Alhamdulillah, banyak yang mengajak untuk sesekali menginap di rumah ini, itu jadi tidak terlalu kesepian. Alhamdulillah…

Pancaran sayang  Bude terhadap Pakde mengalahkan keindahan pemandangan di balik jendela mulai dari matahari perlahan tenggelam dengan langit yang berubah warna merah muda sampai kemudian meredup bertabur bintang dan dikaki langit berkilauan berbagai lelampuan warna warni

 

 

Tidak Dikategorikan