(lagi) Tentang wanita bekerja

Ada yang menshare video ceramah seorang Ustadz tentang haramnya seorang wanita bekerja. Yang bikin galau karena, ini dishare oleh salah seorang sahabat yang saya kagumi sejak dulu, berprestasi memenangkan berbagai pelombaan ilmiah juga lulus dengan predikat cumlaude-selain aktif di organisasi kemudian selepas kuliah dengan dukungan penuh keluarga, beliau langsung melanjutkan sekolah di negeri Paman Sam. Meski di sana menemukan jodohnya, beliau tetap menyelesaikan kuliahnya =D, saya tau impiannya, bukan menjadi seorang Ibu rumah tangga dan menghomeschooling anak-anaknya. Namun, mimpi bisa saja berubah bukan sejalannya waktu, dengan pemahaman yang berbeda. Atau mungkin, sebenenarnya tidak berubah, tapi ditunda dipupus?  demi anak-anak dan suami.  Kemudian saya jadi berfikir apakah suatu hari nanti, saya berubah juga?

Teringat di suatu masa  akhir perkuliahan, berbagai seminar kehidupan pasca kampus diselenggarakan, tertangkap pesan yang kuat, berulang-ulang disampaikan bahwa peranan wanita adalah menjadi seorang Ibu; menjadi madrasah yang pertama dan utama untuk anak-anaknya. Bahwa wanita lebih mulia menjadi Ibu rumah tangga dan mendidik anak-anaknya. Tapi, saya, dididik oleh seorang Ibu pekerja, beliau mencontohkan selain menjadi madrasah bagi anak-anaknya, beliau juga menjadi madrasah bagi anak-anak lain. Yah, tidak menjadi Ibu yang selama 24 jam berada disamping anak-anaknya, tidak membuat kami merasa kurang cinta dan kasih sayang atau kurang didikan. Kami tetap merasa sangat dekat dengan Ibu juga Bapak =).

– meskipun bekerja- Didikan Ibu, jauh lebih menghujam…Ibu, berpesan, menjadi wanita itu bukan berarti harus tergantung dengan laki-laki, seorang wanita harus bisa mandiri agar siap akan segala berbagai kemungkinan terburuk di hidupnya, bukan berharap yang terburuk tapi kita ga pernah tau, jodoh kita seperti apa, atau umur yang menafakahi kita sepanjang apa. Kalaupun semuanya baik-baik saja, suami cukup menafkahi, maka bekerja bisa diniatkan  untuk ibadah, punya penghasilan sendiri berarti bisa bersedekah tanpa perlu meminta kepada suami, bisa membantu keluarga lain yang kekurangan, membantu sesama. Yaaa…. Ibu saya mendorong saya bekerja bukan mengajarkan saya untuk mengejar Dunia atau memupuk kekayaan juga bukan tidak mempercayai bahwa rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Mungkin istilahnya, mengambil amal tambahan selain amal utama di rumah.

Kemudian, saya semakin mantap bekerja, setelah saya bertanya tentang wanita bekerja kepada guru ngaji saya dulu…. beliau menceritakan kisah Nabi Musa,

“Dan ketika dia sampai di sumber air di negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? Kedua (perempuan) itu menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum (ternak-ternak), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.” (Q.S. Al-Qasas: 23)

Dulu, perempuan memang tidak bekerja di kantor, tapi mereka -tertera di Quran- dua perempuan sedang menghambat ternak untuk memberi minum ternaknya. Menjadi peternak apakah bukan sebuah pekerjaan? Memang ada adab-adabnya, pertama, mereka bekerja karena orang tuanya telah lanjut usia sehingga tidak ada yang menafkahi, atau bisa dikatakan telah mendapat izin dari walinya untuk bekerja. Yang kedua,  tidak bercampur dengan laki-laki, karena mereka menunggu penggembala (laki-laki) memulangkan ternaknya, baru dua orang perempuan itu bisa memberi minum ternaknya yang pada intinya menjaga diri dan menjaga pergaulan ketika bekerja. Mencari nafkah memang bukan kewajiban seorang wanita, karena  idealnya dalam Islam, wanita selalu berada dalam tanggung jawab seseorang untuk dinafkahi -ayahnya, kemudian suaminya, kemudian anak laki-lakinya-. Bahkan jika tidak ada seorangpun yang menafkahi, maka seharusnya negara bertanggung jawab. Tapiii…  kenyataan seringkali berbenturan dengan kondisi-kondisi yang tidak ideal. Jadi, tentu saja boleh bagi para wanita bekerja 😀

Oke, masih banyak PR buat saya buat terus mencari tahu, buat mentelaah dan memahami ayat ini juga ayat lain di Al-Quran, juga untuk mencari tau hadist-hadist yang tekait juga untuk membaca shirah tentang sahabiyah.

Penasaran, waktu Rasululullah dilahirkan kemudian disusui Ibunya hanya tiga hari, kemudian diserahkan kepada Halimatu Sa’diyah untuk disusui dan diasuh di desa, apa  yang dilakukan Ibu Rasulullah ketika itu?  Kita ga bisa melabeli Aminah sebagai Ibu yang ga baik  kan atau lebih mementingkan dunia dibanding akhirat…karena menyerahkan pengasuhan anaknya pada wanita desa bahkan tidak disusui langsung secara eksklusif oleh Ibunya.  Ohyah, menjadi Ibu susu- yang dilakukan Halimah- adalah sebuah pekerjaan juga lhoo-pekerjaan zaman dulu-. Yaaa, memang sih, itu kan pekerjaan yang dilakukan di dalam rumah, tapi  untuk mencari Ibu yang ingin menyerahkan bayinya ituuu…mereka berjalan jauuuh lhooo, dari desa ke kota.

Ohyah, apa yang Ustadz khawatirkan tentang tidak adanya rasa hormat dari Istri karena penghasilannya melebihi suami, alangkah lebih baiknya untuk menyeru para Istri tersebut berkaca kepada Ibunda Khadijah yang tak hanya lebih dari segi materi saja dibandingkan dengan Rasulullah. Bukan malah menyalahkan para pejuang keluarga tersebut. Atau mungkin harus dicoba telaah lebih lanjut: apa lelaki tersebut memang punya kapabilitas sebagai kepala rumah tangga, yang benar-benar bertanggungjawab terhadap keluarganya, sehingga nilai dirinya tak hanya sekedar materi yang dihasilkannya. Kemudian ,”gesekan panas” itu sangat mungkin terjadi, tapi tidak hanya di dunia kerja, godaan ada di manapun, apalagi dengan kecanggihan teknologi. Yang penting, bagaimana kita bisa membentengi diri, menjaga diri dari godaan tersebut.

Yup, saya sedang melakukan pembenaran, akan apa yang saya yakini saat ini 😀 Bukan untuk menyalahkan apa yang telah menjadi keyakinan dan pilihan orang lain. Saya hanya berusaha menguatkan diri sendiri. Bagaimanapun, saya  tidak bisa membayangkan, dunia tanpa perempuan yang berkiprah sesuai dengan ilmu dan keahliannya. Jika betul itu haram, tak ada dokter muslimah, tak ada suster, … tak ada….tak ada… tak ada….

 

Tidak Dikategorikan