
Bu, masih ingatkah… saat Ibu menggenggam erat tangan saya, beralih dari satu koridor yang sempit ke koridor yang lain, mencoba menghindari genangan air tapi tetap tak bisa lepas dari becek dan kotornya lantai pasar, lalat-lalat yang bertebaran, bau anyir daging juga bau ikan asin dan tak jarang bau sampah yang menumpuk, sehingga berbagai wangi aroma bumbu atau buah dan bunga tak bisa mengalahkan bau yang tak sedap. Dulu, seringkali saya tak bisa menolak untuk menemani Ibu ke pasar sehingga menemani dengan enggan, yah Ibu tau…saya ogah-ogahan ke pasar. Bukan karena tidak suka menemani Ibu, tapiii saya ga suka bangeeeet sama kotor dan baunya. Semakin beranjak dewasa saya semakin mempunyai banyak alasan jadi tak pernah lagi mengantar Ibu ke pasar tradisional. Jikapun menawarkan diri, Ibu menolak…tak mau membuat saya tersiksa dengan baunya, karena terkadang tak bisa menahan diri dari rasa mual. Ah… Ibuuu…
Ibu, jika sajaaa… jika saja Ibu disini, saya akan dengan senang hati mengantar Ibu ke pasar tiap minggu (karena pasar disini, tidak ada buka tiap hari, hanya seminggu sekali pada hari sabtu di setiap pusat kota). Namun bila ada pasar tiap hari, saya tak berkeberatan menemani Ibu tiap hari ke pasar. Meskipun saat ini hujan Bu, namun pasar tetap rapih dan bersih. Lihat Bu, tidak ada sampah juga tidak ada bau yang tak sedap.
Ibu, ingin sekali menggenggam tangan Ibu erat, mengitari setiap jongko dari pasar disini. Tentu, sayangnya… tak ada tawar menawar disini. Tapi Bu, saya senang berbelanja disini…



Kalau pasar tradisional di Indonesia seperti ini, kapanpun Bu, saya siap mengantar Ibu ^^