Gaya hidup sehat

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, Kamilah yang telah mencurahkan air melimpah (dari langit), kemudian Kami tumbuhkan biji-bijian, dan anggur dan sayur-sayuran, dan zaitun dan pohon kurma, dan kebun-kebun (yang) rindang dan buah-buahan serta rerumputan. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.” (QS. Abasa: 24-32)

Mengapa kita harus memperhatikan makanan kita? Karena makanan apapun yang masuk tubuh kita akan menjadi darah dan energi untuk beraktifitas. Oleh karena itu, kita harus memastikan makanan kita halal dan toyyib. Didapatkan dengan cara yang halal dan makanan yang masuk tubuh itu baik untuk kesehatan. Berbagai jenis penyakit sebagian besar timbul karena ketidaksemibangan dalam pola makan dan memakan makanan yang tidak sehat.  Memperhatikan makanan, membuat kita semakin bersyukur akan karunia Allah yang menumbuhkan dan menyediakan berbagai jenis tumbuhan yang bisa dimakan. Juga menantang kita berfikir lebih jauh tentang bagaimana rangkaian panjang dari sebuah makanan sampai bisa terhidang siap saji…yang intinya membuat kita semakin menghargai makanan apapun yang ada.  Dengan memperhatikan makanan salah satu upaya untuk menjaga amanah tubuh diberikan oleh Allah untuk tetap sehat.

Begitulah inti dari surat abasa yang saya ingat ketika dibahas dalam pengajian pekanan bertahun-tahun yang lalu.  Ayat ini begitu familiar,  karena saya hafal dan sering digunakan dalam sholat. Tapi sebelum dibahas, saya tidak pernah berfikir tentang makanan. Eh sering sih kalau berfikir makan atau jajan apa hari ini… Maksudnyaaa, berfikir untuk mengubah pola hidup saya dengan makanan yang sehat, untuk merubah sedikit tentang pendirian saya waktu itu, bahwa perempuan tak harus jago masak seperti halnya banyak pula lelaki yang jago masak dan makan apapun selama masih enak dan bisa dimakan-se engga sehat apapun makanannya. Sebenernya, ini teguran halus dari guru ngaji saya untuk memotivasi saya biar belajar masak, karena dengan memasak sendiri kita bisa mengetahui dengan baik dan memastikan mulai dari kualitas bahan makanan sampai proses memasaknya itu sehat buat tubuh kita. Nah, tapi perubahan gaya hidup itu tak mudah, apalagi semenjak pindah ke Jakarta, yang hampir tiap hari berpindah dari satu tempat makan ke tempat makan yang lain, meski ga berani beli jajanan atau makanan tertentu di pinggir jalan karena berefek sakit perut. Tapiii, boleh dikatakan saya jauuuh dari pola makan sehat. Saya tidak memperhatikan makanan saya, yang baik untuk tubuh.

Sampai ketika hari ini, saya dipertemukan dengan survivor kangker, untuk kedua kalinya beliau mendapatkan cobaan kangker setelah dinyatakan sembuh bertahun-tahun yang lalu. Beliau menasihati saya untuk mencoba memakan makanan yang sehat, mulai dari memilih bahan makanan organik juga cara memasak makanan yang sehat untuk tubuh. Katanya, buat apa memanjakan lidah tapi berefek dalam jangka lama. Beliau merasa, ketika hidup di Jakarta, makan  makanan yang tidak sehat -seringkali digoreng, seperti pecel ayam, gorengan, dsb… Sesampai di Jerman dan setelah sembuh dari kangker, beliau mencoba hidup sehat, tapi ternyataaa beliau belum cukup mengenal penyakit ini, sehingga harus berhadapan dengan penyakit ini untuk ke dua kalinya. Mungkin penyebabnya bukan hanya makanan-karena beliau merasa sudah menjaga makanannya, meski tetap memakan tempe dan tahu yang seharusnya makanan ferementasi tidak diperbolehkan untuk penderita kangker yang baru diketahui setelah serangan kedua tetapi juga untuk gaya hidup sehat dengan berolahraga secara rutin. Bertemu dengannya serasa tamparan keras buat saya. Agar saya merubah gaya hidup saya. Sekarang

 

 

Tidak Dikategorikan