Seseorang nun jauh disana bertanya, apakah saya bahagia dan senang disini… saya menarik nafas panjang, harusnya saya merasa berbahagia akhirnyaaa apa yang saya inginkan untuk melanjutkan sekolah terwujud. Tapi sungguhkah saya bahagia ketika jauh dari keluarga? Berbahagia dengan berbagai kesulitan dan tantangan yang semakin hari semakin berat?
Seperti grafik sinusoidal, ada kalanya saya sangaaat bahagia, sesederhana menemukan barang yang diperlukan dengan gratis di flea market atau karena diberi , dimasakkan makanan dan kue, dibuatkan hot chocolate, ditanyakan kabar dan percakapan panjaaaang kemudian diakhiri dengan saling mendoakan… Tapi ada kalanya saya berada dalam titik terendah kebahagiaan, bahkan karena hal yang sepele. Seminggu ini saya sedih karena denger cerita sedih temen T___T, saya sedih karena charger laptop saya rusak ditengah deadline dan harus menunggu seminggu untuk mendapatkan charger baru, saya sedih karena saya ga bisa meluk Ibu dan ga bisa minta tolong Bapak dan Adek untuk membantu saya, saya sedih karena merasa tidak diperdulikan, saya sedih karena hanya karena saya ga bisa daftar ujian untuk satu mata kuliah (bukan GA lulus ujian. lhoo.. saya ga kebayang gimana sedihnya kalau ga LULUS ujian! Seriusan, selama kuliah dulu saya super duper nyatai kalau ga lulus juga. Ini, cuman ga registrasi ujian aja rasanya kayaaa pengeeeen pulaaaaang ajaaaaa… hikhiks…).
Ingin saya menjawab, saya berusaha membahagiakan dan menyenangkan diri. Tapi jujur, tetap ada rasa sedih. Akhirnya saya menjawab, saya tak selalu bahagia dan senang tapi saya yakin akan baik-baik saja 🙂
Sedih. Bahagia.
Sabar. Syukur.
Siklus untuk senantiasa mengingatNYA…
Laa tahzan, inallaha maana.