Saya tahu, menjejakkan kaki di negeri ini bukan berarti saya terbebas dari berbagai kesulitan dan kerumitan. Seperti bermain games, segala tantangan saya waktu mengurus tetekbengek beasiswa dengan berbagai ketidakjelasan dan dramanya itu baru level pemula.
Ketika menjejakkan kaki di bandara, saya seperti disambut babak tantangan baru. Ohyah, saya baru membooking tempat tinggal sementara di bandara keberangkatan Soetta dengan dibantu sahabat yang sudah berada di Jerman, kemudian dia memberikan petunjuk cara mencapai tempat tersebut dengan S-bahn. Dan, entah kenapa, dari 365 hari, pada hari kedatangan saya S-bahn dari airport tidak beroperasi padahal satu-satunya petunjuk hanya dengan S-bahn. Sambil menggeret-geret koper saya bertanya pada orang-orang, tapi tak ada yang mempunyai ide selain naik S-bahn juga ke beberapa halte bus di depan airport, tapi tampak tak ada jurusan yang sesuai. Semua orang menyarankan menggunakan taxi. Saya memutuskan naik taxi, tapi saya kelelahan. Masuk kembali ke bandara untuk berhenti sejenak, beristirahat. Saat itu, saya mengamati dua orang laki-laki yang tampak berdiskusi di depan pengumuman S-bahn yang tidak beroperasi. Saya menduga mereka mengalami kemalangan yang sama dengan saya. Dan entah kenapa saya beranjak dari tempat duduk dan bertanya pada mereka, yup, sesuai dengan yang diduga, mereka harusnya juga naik Sbahn dan tak punya ide alternatif transportasi, mungkin bis. Kemudian, saya mengintil mereka untuk mencari informasi dan meminta izin untuk bersama mereka meskipun tujuan berbeda. Entahlah, padahal saya baru kenal, tapi saya begitu berani percaya saja pada mereka untuk bersama mencari jalan. Tanpa saya minta dan saya harap, mereka tak hanya menunjukkan jalan tapi juga menjadi teman perjalanan yang menyenangkan juga membayarkan biaya tiket perjalanan saya. Orang jerman baik, penolong dan ramah, itu yang saya rasakan dan membuat hati saya menghangat ditengah dinginnya udara musim gugur.
Sampai di halte S-bahn tujuan, mengikuti petunjuk yang kurang jelas ternyata. Harusnya dekat, tapi saya berputar-putar, bertanya pada orang-orang, bulak-balik karena setiap bertanya berbeda jawabnya. Nomer, yang tak tertera di peta petunjuk jalan. Kemudian memutuskan berjalan…terus berjalan… mungkin sekitar setengah jam, sampai koper kelelahan membawa dirinya sendiri… sempat terbesit, jangan sampai ini alamat palsu, hiks… Tapiiii, alhamdulillaaaah… rasanya lega ketika memang benar ada alamatnya, gedung yang cukup menjorok dari jalan. Dan, karena tersesat dan berjalan di jalan yang salah saya bertemu dengan Elma, muslimah Yogoslavia yang sangat membantu saya melewati pekan pertama saya. Seperti mendapatkan reward, setelah melewati tantangan.
Kemudian, level selanjutnya mencari-cari tempat tinggal, bertemu dengan orang yang beritikad buruk juga tempat yang tak layak sampai kemudian dipertemukan dengan mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia. Sampai saat ini, saya masih belum beranjak dari level ini. Masih harus ke sana…ke sini,…. tapi saya yakin, pada saatnya, saya bisa melewati masa ini.
Harusnya proses addmission berjalan mulus. Ya, saya sudah menyerahkan semua dokumen persyaratan dan mendapatkan student ID, tapiiiii….. saya belum juga bisa mengakses intranet kampus. Menelpon dan datang berkali-kali, dengan dramanya. Lagi-lagi S-bahn tidak berfungsi pada hari saya ke kampus Stadmitte, padahal tinggal satu halte lagi, terpaksa menggunakan jalur memutar memakai U-bahn dan bus. satu halte yang tinggal 3 menit menjadi lebih dari 30 menit. Itu cerita beberapa hari lalu, cerita hari ini.. kantor tutup sebelum waktunya =____= ya ampuuun ini jermaaaan, tapi mereka bisa semena-mena dengan jam tutup kantor. Dan pengumumannya, tentu saja dalam bahasa Jerman. Sebelumnya, pekan lalu, waktu memasukkan berkas, saya sempat kecele datang lebih dari jam 12, padahal jam kerjanya dari jam 9-12.00, terpaksa saya pulang dengan tangan hampa. Itu sih salah saya, ga ngeh sama jadwal kantor pelayanan yang beda-beda. Tidak seperti di Indonesia yang pukul rata. Di jerman, harus cermat terhadap jam buka kantor yang berbeda-beda. Sekarang, saya datang jam 11, eh dia tutup lebih cepat. pyuuuhhh…. bukannya apa-apa, buat ke admission itu, kaya perlu ekstra tenaga dan waktu karena terletaknya di kampus stadtmitte sementara kampus saya di veihangen. Jadi ga bisa nyambi gitu, dtengah-tengah kuliah. Harus niat.
Yah, begitulah…. semua ini belum masuk level tantangan lanjut dengan tugas dan ujian kuliah….
Semoga bisa menyelesaikan games ini, sampai akhir. Tentunya, bukan selesai karena game over.
Saya teringat pesan Elma, jangan terlalu cepat menyerah. =)