Keterkejutan

I was shocked, how come your government doesn’t take care of you?

Begitulah salah satu komentar, ketika saya masih terlunta-lunta mencari tempat tinggal, padahal dia tahu saya mendapatkan beasiswa pemerintah. Dia membandingkan dengan pemerintah Malaysia, yang memberikan perhatian terhadap mahasiswanya, setiap mahasiswa yang datang tahu beres tentang tempat tinggal, ditambah lagi biaya beasiswa yang sangat besar dari pemerintah nya.

Andai saja dia tau, dia akan lebih syocked lagi,  bukan hanya soal tempat tinggal saja, pemerintah saya tidak peduli. Sampai saat ini, saya tak punya gambaran kapan saya mendapatkan dana beasiswa. Ketika ditanya, hanya dijawab sabar saja. Begitupula dengan pengajuan biaya bulanan, masih lebih tak jelas lagi, karena pengajuan kepada siapapun tak jelas. Si A ke si B, si B ke si C, si C me si D, si D ke si E, si E… Kenapa saya? bukan saya.

Dia berkata, andaikan pemerintahmu menelpon atau mengemail studentenwerk, mungkin kamu bisa mendapatkan kamar disana. Tapi rasanya membayangkan minta bantuan yang tidak ada dalam tugas mereka itu…pyuuuuh. Sedangkan yang nyatanya tugas mereka saja…Saya mesti bersabar, kesabaran yang tiada berbatas.

Andai dia tahu, saya dan teman-teman bagian dari pemerintah itu, dia akan lebih syocked lagi, bagaimana kami menjadi sebuah bagian tapi tidak diperdulikan. Maka, rasa itu sudah tertempa,jauuuh sebelum sampai di negeri tujuan, ketika mengurus ini-itu. Kami harus berusaha mendapatkan hak kami, yang seharusnya tanpa kami perlu berusaha kami mendapatkannya. Kami telah melakukan kewajiban kami, tapi begitu sulit mendapatkan hak yang telah dijanjikan. Jadi, saya tak bisa berharap banyak.  Oh, I don’t expect them too much for  taking care of me. I just wish that they could doing their responsibility properly. Just that, it is enough and I will be very thankful.

Tidak Dikategorikan