Winda,
Saya masukkan paper ke ****** di *** Jogya. Masih ingat gak kerjaan ini, Desember 2008 ? Silahkan kalau bisa menghadiri seminar tsb.
Sebuah surat elektronik dari dosen saya membuat saya kembali ke masa itu. Ya ,saya ingat. Bagaimana mungkin saya bisa lupa, kala hampir semua teman-teman sudah mendapatkan pekerjaan di sana, di sini. Saya masih terdampar di kampus, tiap hari ke lab kampus untuk mengerjakan proyek2 sampai malam, minimal mengakhiri hari dengan makan malam di luar. Jika tidak di kampus, saya diajak ke luar kota; melihat kondisi lapangan, presentasi dengan klien, dsb.
Saat-saat saya sering ditanya “Udah apply ke perusahaan ini, itu?” “Belum dapat kerjaan win, masih rajin aja ke kampus?” Iya, pekerjaan di kampus, tidak terhitung pekerjaan, meskipun digaji-ya meski ga seberapa sih gajinya-. Sejujurnya, saat itu, bukan hanya sebagian orang, saya juga ga menganggap kegiatan di kampus itu sebagai pekerjaan tapi lebih ke pembelajaran. Saya merasa saat itu, banyak pengetahuan tambahan yang saya dapatkan dari dosen saya yang tidak didapatkan di ruang kelas juga terasa sekali kalau beliau sedang menempa saya agar bersiap ke dunia kerja.
Sampai sekarang, saya masih mendapatkan pelajaran dari dosen saya. Kalau saja, dosen saya mau mempublikasikan hasil penelitiannya tanpa menyertakan nama saya juga tanpa memberitahukan saya, saya tidak akan tahu kalaupun ternyata pada akhirnya tahu, dosen saya sangat mengenal saya, toh saya tidak akan protes kalaupun hasil pekerjaan dulu dipublikasikan dengan hanya namanya. Lagipula, waktu itu kan kontribusi saya cuman secuil. Sesuatu yang wajar dilakukan di lingkungan pekerjaan saya sekarang, menihilkan kontribusi seseorang. Sementara dosen saya, memberikan contoh kepada saya secuil-pun kontribusi seseorang tetap perlu diingat dan dihargai. Semoga, saya bisa menghargai apa yang telah orang lain lakukan-sekecil apapun.