Oh

Melihat fotomu, membuatku ingin mengetahui kisah bahagiamu, masih tersimpan dalam kenangan tentang jalan dengan bagunan yang khas di kiri-kanannya (oh, aku bahagiaa sekali berjalan disana), mobil popcorn merah yang menjadi latar belakang (oh aku sukaa berbagai jenis mobil unik itu), stroller berlabel biru (oh, dalam hati aku ingin mencoba menaikinya) kemudian oh, sekilas saja secuil fotomu, menjadi lorong waktu, mmemutar kembali kenangan yang kusimpan rapat. Tak ragu, aku bertaya padamu. Oh, ingin sekali aku percaya bahwa apa yang kamu katakan itu benar. Memang, wahana permainan negeri  ini, sekarang telah berubah kereeeen dengan kekerenan yang setara dengan negeri tetangga. Oh sungguh, aku senaaaang mengetahuinya dan ingin sekali bermain-main disana mengingat sudah lama aku tak kesana, tapi kenanganku tentang wahana permaianan negeri tetangga masih melekat kuat. Oh… maafkan aku jika aku salah, aku akui otakku yang salah. Hatiku, sungguh…aku percaya padamu. Maka aku harus meluruskan asosiasi pada otakku. Aku mencari tahu tentang wahana permainan di negeri ini, tapi tak juga aku temukan satupun fragmen gambar yang menyerupai fotomu -yang bisa merubah presepsi di otakku. Tidak, pasti ada kesalahan dengan gambar-gambar yang tersebar di dunia maya ini, pasti  tidak ada yang terkini, yang merekam perubahan terkini, aku  percaya padamu.

Aku menyakinkan diriku, kamu yang benar dan aku yang salah. Oh, otakku yang salah, meski aku mencari gambar tentang jalanan itu, percis ingatanku, mobil itu, percis dengan bayanganku, stroller itu.,percis dengan gambaran di otakku.  Oh, hatiiii….hatiku tetap tak mau berkompromi juga dengan otakku.  Hatiku menolak bahwa aku seseorang yang layak untuk dibohongi dan tidak pantas untuk dipercaya. Iya, aku salah karena aku belum membuktikanya, berkunjung ke sana, menggantikan gambaran-gambaran di otakku.  Yah, aku harus kesana. Agar otakku tahu, dia salah. agar otakku mendapatkan tambahan referensi di benaknya. Untuk sementara… aku harus menumpulkan otakku. Aku harusnya lebih mendengarkan hatiku. Seorang teman tak mungkin meragukan perkataan temannya bukan. Oh, aku salah,  kamu yang benar.  Aku salah, karena kamu, tak mungkin kamu berbohong kepadaku kan? untuk apa?

Maafkan aku. Aku percaya padamu.

Tidak Dikategorikan