Empty Room

Ketika aku menyapanya
“Apa kabarnyaaaaa???”
Dia menjawab,
” Hehe…..maluuu ah”
dalam hati aku bertanya-tanya apa yang menyebabkannya malu dengan kabarnya. Iyaaa, kadang aku merasa malu juga untuk bertukar kabar karena tak ada yang berubah tentang kabarku dari sejak lima tahun yang lalu: tetap bekerja di tempat yang sama, tetap ngekos di tempat yang sama, status yang masih berubah, jenjang pendidikan yang juga belum berubah… Yah, harusnya aku yang malu. Dia, banyak kabarnya yang berubah, sudah bertambah anaknya, sudah meninggalkan pekerjaannya, mungkin juga sudah berpindah tempat tinggalnya. Banyak hal yang bisa dia ceritakan, banyak kabar tentang dirinya yang bisa jadi baru aku tahu.
“Lamaaaa bgt ga ketemuuu”
Kemudian tak ada respon
Lalu, aku menghubunginya  beberapa hari kemudian, entah kenapa aku tiba-tiba teringat dia, kekhawatiran yang tiba-tiba mucul, keinginan untuk mengetahui kabarnya …menyapanya kembali dalam sebuah layanan media chat online.
Kemudian tak ada jawaban
Sampai beberapa hari kemudian, ada notifikasi she left the chat, maka ruang percakapan itu menjadi empty room.
Ah,  aku memang bukan teman yang baik… Sungguh, aku telah melupakannya, melupakan permasalahan-permasalahan di awal pernikahannya, aku tak ada ketika dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, aku juga tak ada ketika dia melahirkan anak-anaknya. Lalu, setelah bertahun-tahun tak saling bertukar kabar, aku tiba-tiba muncul. Mau apa? Sebuah ruang kosong tiba-tiba menyergap hatiku.

Tidak Dikategorikan