Kalah

Setiap manusia sedang menghadapi peperangan sepanjang hidupnya. Pertarungan menghadapi musuh abadi yang tak terlihat. Sungguh, saya tidak suka dengan kata perang dan musuh. Namun apa daya, permusuhan ini  sudah dimulai sebelum saya lahir,  sejak zaman nenek moyangnya manusia, zaman Nabi Adam. Yaaak… si saya sih sering banget ga nyadar sama peperangan ini (pun sebagian manusia) karena si musuh tak terlihat, padahal dia  dekat (berada dalam aliran darah kita, katanyaaa). Udah nebak pasti, Iblis dan keturunanya syaitan menjadi musuhnya manusia sejak  zaman nabi Adam sampai sekarang. Mereka ituu  tujuan hidupnya cuman satu: membuat manusia tergelincir, lupa, untuk mengidahkan perintahNya, untuk melakukan laranganNya. Sepertihalnya Iblis yang berhasil menggelincirkan Nabi Adam dari syurga, syaitan berusaha membuat anak keturunan Adam ini ga kembali ke syurga di kehidupannya yang abadi tapi menemani mereka, menjadi sekutunya mereka, menjadi penghuni neraka.  Terus kerjanya mereka fokus, fokus menggoda manusia…eh manusia banyak urusannya selain menghadapi syaitan dia juga harus memikirkan permasalahan hidup di dunia. Mangkanyaa, manusia suka lupa sama pertarungannya sama syaitan.

Jadi..Jadiii…untuk melancarkan visinya, Iblis  menggempur manusia dari berbagai arah. Mereka  datang dari depan  (min baini aidihim) untuk membuat manusia ragu akan permasalahan akhirat. Bisa juga datang dari belakang (wa min kholfihim) untuk membuat manusia cinta dunia, merasa khawatir tentang dunia dan dibebani dengan urusan yang sebenarnya sudah ditetapkan oleh Allah. Kemudian bisa datang dari kanan (wa ‘an aimaanihim) untuk membuat samar-samar setiap perkara syubhat, menjadikan yang haram jadi halal, dengan kata lain menjadikan urusan-urusan agama dibuat menjadi tidak jelas. Dan  datang dari arah kiri (wa ‘an syama’ilihim) untuk membuat manusia tertarik dan senang terhadap dosa, mendorong syahwat/nafsumya manusia sehingga dosa menjadi hal yang dianggap biasa [Ini ada di QS. Al-Araf: 16-17].

Eh, berarti si Iblisini menggempur dari segala arah yaaa, engga…ternyata masih ada arah atas dan bawah, menurut Fakhrur-Razy dalam tafsirnya berkata: “Diriwayatkan bahwa ketika Iblis mengatakan ucapannya tersebut, maka hati para malaikat menjadi kasihan terhadap manusia, mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, bagaimana mungkin manusia bisa melepaskan diri dari gangguan syaitan?” Maka Allah berfirman kepada mereka bahwa bagi manusia masih tersisa dua jalan: atas dan bawah, jika manusia mengangkat tangannya dalam do’a dengan penuh kerendah-hatian atau bersujud dengan dahinya di atas tanah dengan penuh kekhusyu’an, Aku akan mengampuni dosa-dosa mereka.” (At-Tafsir Al-Kabir V/215).

Dalam tafsir Ibnu Katsir juga dijelaskan bahwa Iblis tidak mendatangi kita dari atas, karena rahmat Allah turun kepada manusia dari atas (Tafsir Ibnu Katsir III/394-395)

Kenapa tiba-tiba saya nulis serius gini? Pekan lalu, saya ikutan kajian tentang peperangan sepanjang massa antara Iblis dan syaitan untuk menggoda anak adam dan keturunannya dengan ketidakseriusan saya menyikapinya. Namun, sebuah kejadian menyadarkan saya bahwa selama ini, saya seringkali kalah dalam babak-babak pertarungan dengan syaitan.

Audzubillahi mina  syaithonirojim...

Kembali terngiang perkataan seorang sahabat, “Ga tau, Winda udah ngelakuin apa, tapi kayanya harus shalat taubat… Jangan sampai menggadaikan kehidupan akhirat demi kehidupan didunia”

Tidak Dikategorikan