Tiket Transjak

Saya tertegun, di depan loket bis transjakarta. Semenjak 17 Agustus 2014, tiket transjakarta menggunakan  kartu e-money. Oh yah, saya sudah membaca di media massa tentang peraturan baru ini. Tapi saya fikir, ada opsi lain selain membeli kartu itu, seperti halnya kartu berjaminan di kereta api yang digunakan sekali pakai. Ternyata, tak ada opsi lain. Harus membeli sebuah kartu dengan provider bank tertentu seharga 40.000 dengan isi uang 20.000.

Sebenernya kalau memikirikan diri sendiri  sih seneng sama kebijakan e-money ini, lebih praktis, apalagi jika terintegrasi untuk seluruh moda transportasi angkutan umum (katanya sih kereta commline bisa pakai e-money).  Hanya saja, saya merasa masih perlu ada opsi lain sih selain membeli kartu e-money untuk dapat menikmati fasilitas bis transjakarta. Gimana dengan orang-orang yang cuman sekali lewat di Jakarta (para turis) atau untuk orang-orang yang tidak mengenal transaksi uang melalui kartu? Orang sekali lewat yang cuman sekali-kalinya menggunakan transjakarta dan ga lama di Jakarta dan ga perlu-perlu amat sama kartu e-money. Ada. Terus  meski sekarang zaman udah canggih secanggih-canggihnya, masih ada orang-orang yang ga biasa bertransaksi perbankan. Ada. Setahun yang lalu, saya kenal seseorang tidak punya rekening bank sama sekali. Oh, saya kaget saat itu. Bagaimana mungkin di hari giniii ga punya rekening. Tapinya, gimana mau punya rekening, kalau uang untuk disimpan di rekeningnya ga ada. Bagaimana punya rekening yang perlu biaya administrasi tiap bulannya, mending biaya administrasinya buat kebutuhan hidup.  Dan orang yang saya ceritain sebagai contoh ga punya rekening itu hidupnya di Jabodetabek, kota-lah boleh dibilang bukan di desa atau gunung. Buat orang-orang yang rekening aja ga punya, harga kartu e-money yang 20.000 itu pasti berarti.

Sayang banget sebenernya,  kebijakan e-money ini menjadikan transportasi umum transjakarta tidak lagi milik semua orang, tak semua orang bisa menaikinya lagi.

 

Tidak Dikategorikan