Di sebuah bangku taman kota

Seorang laki-laki beralaskan sendal jepit, duduk di bangku taman kota bersama sebuah keresek hitam menghadap panggung pertunjukan musik di taman itu.

Kepulan asap rokok, membuat saya menghindari kerumunan. Hampir semua bangku taman terisi, saat itu, saya melihat lelaki itu dan bertanya padanya, apakah boleh duduk di sebelahnya.
Tentu saja katanya. Kemudian mengambil keresek di sebelahnya dan mendekapnya sambil duduknya sedikit bergeser.

Di sela-sela alunan musik di taman kota, kami berbincang.

“Dekat sini ada mesjid yang bagus”, katanya.
“Ada i’tikaf setiap sebulan sekali, bagus sekali. Ada kajiannya.”

Oh, saya belum pernah ikut, bapak sering ikut?
“Saya baru ikut dua kali. Saya mualaf. Sejak 2012. Dulu saya Katolik”

Oh, kenapa Pak masuk Islam?
“Saya tidak tahu, hanya Allah saja yang tahu. Saya punya Al-Quran sejak SMP dan sudah membaca keseluruhan ayat Al-Quran. Terjemahan. Islam menuntut saya untuk mencari tahu dalam pelaksanaan ibadahnya.”

Keluarga bagaimana Pak?
“Ya, bagaimana…. Memeluk agama kan hak asasi. Sampai sekarang, usia saya 50 tahun belum berkeluarga…..”

Apakah Bapak tidak malu atau menyesal memilih Islam?
“Tidak. Tentang orang-orang Islam sekarang mereka lebih mencintai dunia daripada Tuhannya, sehingga tidak mengikuti perintah dan larangan Allah. Padahal sudah jelas di Albaqarah 208,  masukklah kamu kepada Islam dengan kaffah….”

Saya tersenyum. Allah, tengah mengingatkan saya dengan caraNYA. Beberapa hari lalu, saya dan teman ikut kajian mualaf bersama mereka yang semangat mencari dan semangat belajar dan bersemangat mengamalkan.. Semangat yang mulai meredup dalam diri saya.

Tidak Dikategorikan