Dia “ada” bersamamu

Pagi ini, saya baru membaca sebuah buku yang berjudul Hanya Salju dan Pisau Batu karya Happy Salma dan Pidi Baiq, di bab kenang-kenangan dan Bapak saya berhenti sejenak. Membayangkan akan kehilangan seorang Bapak. Rasanya, saya belum siap, mungkin tak akan pernah siap. Saya ingin mengumpulkan banyak-banyaaak kenang-kenangan baik bersama Bapak (juga Ibu).

Tiba-tiba, siangnya, sahabat saya satu SMA dan SMP mengabarkan kepergian ayahnya.

Sahabat saya yang biasanya ceria itu, sembab, berlinangan air mata, memeluk saya erat… “tolong doakan ayah Kat, yaaa win” katanya sambil terisak. Saya menitikkan air mata dalam perlukannya. Mendoakannya, mendoakan ayahnya. Ingin saya kutipkan tulisan Pidi Baiq yang saya baca tadi pagi..

Dear Kat,

Karena cinta itu adalah ruh. Bapak yang mencintai anaknya, apabila ia meninggal dunia, sesungguhnya tidak pergi meninggalkan anak-anaknya, melainkan pergi bersama anak-anaknya juga. Karena, anak-anaknya itu adalah cinta juga bagi dirinya, yang melebur dengan dirinya sendiri ikut pergi bersama ruhnya. Menjadi sama abadi, di sana sampai selama-lamanya.

Dan anak yang mencintainya, ketika bapaknya meninggal dunia, maka sesungguhnya ayahnya itu tidak pergi, melainkan tetap selalu bersama dengan ruh si anaknya. Sebab, begitulah cinta. Selalu bersama-sama, termasuk ke mana pun si Anak pergi, di mana pun si Anak ada. Ayah yang dicintainya menjadi bagian dari ruh anaknya itu.

Jadi, ayahmu akan langsung hadir di ruang manapun yang bersesuai dengan kebutuhanmu. Akan hadir, juga dalam memorimu, kecuali engkau melupakannya. Akan hadir di dalam hati sanubarimu apabila engkau dirundung rindu kepadanya, termasuk rindu oleh sebab sedang merasakan kembali dampak dari kasih sayangnya selama dia “ada” bersamamu. Dan bahkan, dia hadir untuk ikut mengalir bersama air matamu, ketika engkau menangis

Tidak Dikategorikan