Monolog Inggit “Perempuan di Tepi Sejarah”

Mungkin sejarah tak mencatatnya, tidak seperti Ibu Fatmawati yang disebut dalam pelajaran sejarah di sekolah. Tapi namanya, tak akan mungkin hilang, pengorbanan yang dilakukan akan tetap dikenang meskipun tidak diajarkan di pendidikan formal.

Monolog Inggit, menceritakan mulai dari pertemuan Inggit dengan Sukarno sampai mereka berpisah. Bagaimana Inggit sebagai istri bersikap pada Soekarno, bagaimana perjuangan Inggit memenuhi kebutuhan rumah tangga sementara Soekarno berjuang, bagaimana Inggit menjadi pendukung utama yang selalu menguatkan, membangkitkan semangat Soekarno, bagaimana Inggit berjuang memenuhi berbagai kebutuhan dan permintaan Soekarno ketika di penjara, bagaimana semua kesusahan dan keluh kesah disimpannya sendiri, bagaimana Inggit selalu ada dan mendampingi Soekarno di pengasingan. Bagaimana Inggit senantiasa menyakinkan Soekarno untuk terus berjuang.
Lalu? Semua kebaikan Inggit dibalas Soekarno dengan sebuah permintaan untuk mempunyai anak- dengan kata lain menikah lagi. Semua, permasalahan rumah tangganya tak membuat Inggit meninggalkan Soekarno, Inggit tetap setia mendukung dan mendampingi saat Soekarno membutuhkannya. Namun pada akhirnya, Soekarno memilih untuk bercerai dengan Inggit dan menikah lagi. Dan setelah perceraian, Inggit tetap mencintai Soekarno sampai akhir hayatnya…

Monolog yang dipentaskan oleh Happy Salma, membuat saya merasa seperti mendengarkan suara hatinya Inggit. Kawih Sunda yang menyayat hati..Duh Gustiiii.. sukses membuat air mata saya mengalir.

Pertunjukan yang dipentaskan di theater besar Taman Ismail Marzuki ini sangat sederhana, baik dari segi kostum, riasan, dan tata panggung. Namun justru kesederhanaan itu menjadi kekuatan karena penonton dapat fokus pada ‘monolog’ yang tidak sederhana.

Nb.
Untuk para isteri, belajarlah mengatakan tidak pada Inggit, 😛

Tidak Dikategorikan