Jual Mahal

Kata-kata itu begitu mengusikku… Entah kenapa… Meski seringkali aku mendengar… Jadi perempuan jangan jual mahal nanti ga laku-laku. Aku diam, tak ada reaksi emosi. Namun…kali ini…

Aku, perempuan, harus menerima bahwa memang masih banyak para lelaki yang memandang kami serupa dengan barang. Barang yang punya batas kadaluarsa, dipoles sedemikian rupa agar cantik dan menarik sehingga dilirik, menjadi milik seseorang. Seberapa besar usaha para lelaki untuk menjadikan ‘barang’ miliknya? Mungkin itu istilah jual mahal berasal.

Aku tidak punya apa-apa untuk dijual. Semua titipan untuk aku jaga, bukan milikku. Kalaupun aku berfikir hargaku, maka nilainya tak ternilai. Butuh 15 tahun untuk mencicilnya? Tidak! Lebih dari itu..SEUMUR HIDUP pun mencicil mungkin tak pernah bisa membeli apa yang Allah karuniakan padaku dan mengkonversi apa yang selama ini orangtuaku telah upayakan dan berikan padaku dengan sebuah harga.

Terlalu mahal? Silahkan cari saja Perempuan-perempuan lain yang rela melabeli dirinya dengan sebuah harga yang murah.
Nanti tak laku? Tak mengapa, karena aku memilih untuk menjadi manusia bukan ‘barang’ yang dilabeli  dengan bandrol ‘mahal’ atau ‘murah’.

Aku selalu bersyukur memiliki kebebasan memilih, sementara banyak perempuan-perempuan lain tidak bisa mengelak atau menolak ketika dilabeli sebuah harga. Mereka yang terpaksa dibeli seperti sebuah barang dengan harga yang murah… Perempuan murahan katanya. Untuk mereka, aku merasa marah dan sedih, karena aku tak bisa berbuat apa-apa.

Lalu, aku berfikir dalam transaksi jual-beli dengan pelabelan harga -murah atau mahal-, jika benar ada perempuan yang melabeli dirinya dengan mahal (menurut pandangan para lelaki). Apa salahnya? Apa salahnya jual mahal untuk menseleksi para pembeli? Hahahaa..Kemudian aku dengar suara tawa mereka, para lelaki, menjadikan perempuan yang menghargai dirinya sendiri dengan mahal sebagai sebuah lelucon. Oh baiklah…tapii itu tak serta merta para lelaki menghargai para perempuan yang melabeli dirinya dengan harga murah. Para lelaki memandang rendah, tak jarang melecehkan. Logikaku, jika yang jual mahal saja dijadikan bahan candaan, tentunya yang jual murah akan jadi sasaran untuk dihina-dina. Ah, apa mereka lupa, lahir dari seorang rahim perempuan? Bila aku tanya mereka, berapa nilai Ibu mereka? Akan kah mereka menjawab mahal atau murah? Atau mereka menjawab Ibunya bernilai tak ternilai harganya saking berharganya?
Ibu mereka-perempuan juga- seorang manusia bukan barang.

Tak bisakah para lelaki melihat kami, perempuan, sebagai manusia? Bukan seperti barang yang dilabeli sebuah nilai harga -murah atau mahal-

*Para lelaki disini adalah oknum dari manusia yang berjenis kelamin lelaki, bukan semua lelaki karena aku percaya masih ada lelaki yang tidak seperti aku tuduhkan.
*Mungkin kamu juga tidak termasuk lelaki yang aku tuduhkan.  Maaf. Tapi, dengan mengirimkan lelucon itu, aku sadar…

I’m not the right one for you, therefore please find another girl with the label that you can afford it. Not me who don’t want any price-tag attached.
Maybe you wonder.. Don’t you have sense of humor? I’m so sorry… In this case, I don’t have it. Honestly, I’ve crying, not laughingThen please find another girl who laugh at your anecdote, not me who considered it seriously.
If you find the one, I”ll truly happy for your happiness 🙂
Good luck!

Tidak Dikategorikan