Telpon seluler berbunyi
“Teh wiiiinnn….maafkaan akuuu….aku ga bisa menjaga diriku..”
“……..”
“……..”
*deg*
Tak terasa mata menghangat, menahan buliran air tak jatuh.
Aaaah, rasanya aku yang selayaknya minta maaf.
Tak cukup keras menegur. Tak cukup perhatian. Tak cukup untuk terus menyadarkannya…Tak cukup….tak cukup….tak cukup….
“……….”
“……….”
*Tes…tes..*
Tak tertahan lagi, panen air mata.
“………..”
“……….”
Maaf padanya, pada diri sendiri dan terutama pada Alloh SWT.
Tak tahu, apa yang harus dilakukan. Sungguh. Lagi-lagi kejadian yang tak masuk logika. Tapi semua sudah terjadi. Nyata! Bukan sekedar drama di layar kaca.
*sesak*
.
.
.
Mati.
Saluran telpon terputus.
Menyisakan
L (D)
U
K
A