Sekilas tentang Ismail Marzuki yang dikutip dari buku acara konser menjelang 100 tahun Ismail Marzuki
Ismail Marzuki adalah seorang tokoh seniman nasional, seorang komponis dan seorang pemimpin orkes. Ia meninggal dunia pada hari Minggu, tgl. 25 Mei 1958, jam 14.00 dirumah kediamannya di Kp.Bali, Tanah Abang, Jakarta. Ia dilahirkan di Jakarta pada tgl. 11 Mei 1914.
Sebagian besar dari hidup dan kehidupan Ismail Marzuki dicurahkan untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan Republik Indoensia, tentu saja dibidang musik dan seni-suara, yang tidak terlepas dari suka dan dukanya. Ia telah menciptakan tidak kurang dari 240 buah lagu.
Dipandang dari nafas lagu-lagu dan syair-syair ciptaannya, almarhum Ismail Marzuki adalah seorang nasionalis yang setia pada cita-cita perjuangan kemerdekaan, pada kehidupan rakyat dan pada Ibu Pertiwi.
Lagu ‘Rayuan Pulau Kelapa’ yang diciptakannya, telah menimbulkan kekaguman diluar negeri. Lagu ini pulalah yang memenangkan ‘Piagam Wijaya Kusuma’.
Dari lagu-lagu ciptaannya dapat diketahui, bahwa almarhum Ismail Marzuki bukan hanya seorang penulis dan pencipta lagu yang penuh emosi, tetapi juga penuh dengan gaya romantik. Hal ini dapat dilihat dari lagu ‘Kalau Anggrek Berbunga’ (1942-1945), ‘Siasat Asmara’ (1948), ‘Jauh dimata dihati jangan (1947), dll. Lebih dari itu almarhum dikenal sebagai komponis perjuangan dengan ciptaan-ciptaannya yang bernafas idealisme dan nasionalisme.
Jauh sebelum Trikora dicanangkan pada tanggal 19 Desember 1961, almarhum Ismail Marzuki telag menciptakan lagu Irian Samba (1950). Disamping itu, lagu-lagu ciptaannya seakan-akan suatu komando yang membakar semangat, seperti lagu ‘Halo-Halo Bandung’ (1915-1947). Selanjutnya lagu-lagu ‘Rayuan Pulau Kelapa’ dan ‘Indonesia Tanah Pusaka’ (1945-1947) telah menimbulkan rasa kecintaan seseorang yang lebih besar lagi terhadap kepulauan Nusantara Indonesia ini. Lagu-lagunya juga bernafaskan ke-Tuhanan, yang nyata dalam ciptaannya ‘O, angin sampaikan salamku’ (1945-1947)
‘O, Sarinah’ adalah ciptaan pertama almarhum Ismail Marzuki pada tahun 1931, sedang ciptaannya yang terakhir diduga adalah ‘Irian Samba’ atau ‘Inilah Bahagia’.
Almarhum Ismail Marzuki bukanlah komponis yang mengasinhkan diri didekat piano saja, tetapi adalah juga seorang seniman yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Lagu-lagu seperti ‘O, Kopral Jono’, ‘Selamat Jalan Pahlawan Muda’ (1945) dan ‘Selamat Datang Pahlawan Muda’ adalah lagu yang diciptakan untuk menyambut kembali Tentara Nasional Indonesia ke Ibu Kota Jakarta.
Sebagai pejuang, beliau adalah seorang non-koperator yang keras. Ketika NiCA menduduki kantor pemerintah RI di Jakarta, beliau tidak bekerja disiaran radio, dan ketika itu lebih suka mogok dan berjualan gado-gado dan asinan serta membantu isterinya sambicq mengajar bahasa Inggris. Ismail Marzuki baru kembali bekerja dibidang siaran radio, ketika RRI muncul di Ibu Kota Jakarta. Almarhum benar-benar mencurahkan segenap jiwa-raganya untuk siaran-siaran pada tahun 1945. Selain piano, beliau sangat gemar memainkan sexophone tetapi kemudian dilarang oleh dokter karena kesehatannya tidak mengizinkan.
Begitulah Almarhum Ismail Marzuki, seorang komponis besar, seniman Perjuangan.
Pada konser ini, saya senaaang sekali, bisa menikmati karya-karyanya Ismail Marzuki yang dimainkan oleh Jakarta Philharmonic Orchestra.
Lagu yang dimainkan secara medley antara lain: ‘Selamat Datang Pahlawan Muda’, ‘Djuwita Malam’, ‘Oh Angin Sampaikan Salamku’, ‘Sabda Malam’, ‘Jauh di Mata Dekat di Hati’, ‘Wanita’, ‘Payung Phantasie’, ‘Selamat Datang Pahlawan Muda’. Kemudian lagu ‘O Sarina’ dan ‘Sepasang Mata Bola’ dinyanyikan oleh Paduan suara LunarS. Biolin, Sigit ‘Didiet’ Ardityo memainkan lagu ‘Kopral Djono’ dan ‘Payung Phantasie’. Soprano yang berasal dari Perancis menyanyikan ‘Chandra Buana’, ‘Wanita’, dan ‘Yii’. Dilanjutkan dengan lagu ‘Bunga Anggrek’, ‘Rangkaian Melati’ dan ‘Djuwita Malam’ yang dinyanyikan oleh paduan suara lunarS. Kemudian tiga lagu terakhir ‘Indonesia Pusaka’,’Rayuan Pulau Kelapa’ dan ‘Halo-halo Bandung’ dipersembahkan oleh semua pendukung acara yang sukses membuat merinding! Haru!
Saya berharap dengan adanya peringatan ini bisa memperkenalkan kembali karya-karyanya Ismail Marzuki kepada masyarakat khususnya generasi muda Indonesia.
