Berbagi Sarapan

Dan pertamakalinya, setelah beberapakali niat untuk ikutan gerakan #berbaginasi, hari ini bisa ikutan #berbagisarapan. Taunya padahal mendadak banget, setengah jam sebelum acara dimulai. Untungnya tempat kumpulnya di Sarinah, yang tinggal ngesot aja dari kosan 😛

Ternyataaa, seru banget ketemu temen-temen baru yang peduli^___^ dan denger cerita pengalaman mereka, kayanya kegiatan kaya gini bikin hidup kita makin bersyukur deh. Ketemu sama Pak tejo yang tinggal di kolong jembatan Kampung Melayu, dia dulunya pengusaha, bisnisnya sampai milyaran tapi masa tuanya dia habiskan di kolong jembatan tanpa bisa bergerak karena terserang penyakit stroke. Terus ketemu Bapak tua yang tuna netra, awalnya dia nolak lhooo dikasih nasi, tapi akhirnya dia nerima setelah dia tau kita tulus ngasihnya… dan dia langsung makan nasinya dengan lahap *yaaak….tanda bahwa dia lapar kaaan*. Rasanya seneng banget ngeliat orang yang kita kasih nasi, sangat berterimakasih dan memakan dengan lahap nasinya ^___^

Iyaaaa,tauuuu…. kita cuman ngasih ikan bukan kail. Tapinya untuk orang-orang semacam Pak Tejo yang sudah sepuh dan tidak bisa berkarya lagi, mereka tak butuh kail, mereka butuh ikan. 

Saya tiba-tiba ingat cerita seorang khalifah yang ketika berjalan-jalan di sekitar penduduknya dan mengetahui ada satu keluarga yang kelaparan, dia langsung memanggul sekarung gandum untuk diberikan pada keluarga tersebut. Bukan, khalifah itu tidak memberinya pekerjaan atau “kail”. Tapi, memang perlu makan, saat itu. Apalagi kalau inget misalnya mereka udah ga makan berhari-hari, gimana mau beraktifitas, lemes yang ada. Ya, kenyangkan perutnya terlebih dahulu.

 Jadi inget tagline yang sering disebut-sebut di twitternya berbagi nasi, ketika kita tidur dengan perut kekenyangan, banyak saudara-saudara kita yang menjadikan tidur agar lupa dengan rasa lapar yang dideranya. Semoga saja saya bisa konsisten untuk terus berbagi 🙂

Tidak Dikategorikan