Buat kamu yang meminta maaf, seharusnyalah aku yang meminta maaf… Sungguh! Melontarkan pertanyaan yang tidak tepat pada saat yang tidak tepat pula.
Sibuk, yah.. Kenapa aku tidak berfikir bahwa betapa banyaaak yang harus kamu lakukan, dan aku tidaklah penting dan pertanyaanku yang juga tak penting bisa menunggu..nanti…kalau sempat. I’m not put your shoes in my shoes.
Aku minta maaf karena aku hidup dalam presepsiku tidak memposisikan diriku dalam keadaanmu, mana aku tau… Jika saja kau ketik ‘nanti’ atau ‘bentar’. It’s really okaaaay! I’ll understand that you really busy. But you ignore! Then it’s really my fault because i don’t understand that it’s really okey being ignored. So, I’m really sorry.
Aku minta maaf, karena aku pun sadar pernah lupa membalas sebuah pernyataan atau seringkali lamaaa mengomentari sebuah pernyataan atau bahkan tidak membalas. Namun sedapat mungkin aku selalu membalas sebuah pertanyaan ketika selesai membacanya. Meski tidak langsung menjawab pertanyaannya, karena aku perlu waktu panjang-lebar untuk menjelaskan, atau aku tak tahu dan perlu cari tahu. Jadi dalam hal ini sungguh aku yang salah karena tidak sabar dalam menanti sebuah jawaban. Maafkan, aku harus belajar bersabar.
Maafkan aku yang membanding-bandingkankan kamu dengan yang lain. Ketika yang lain sigap merespon. Cuman kamu, hanya kamu yang tak menjawab. Maafkaan, aku yang kurang memahami, mengerti dan mengenal kamu. Untuk itu, aku mengaku salah.
Sungguh..bukan, bukan…bukan kamu yang salah. Dalam hal ini aku yang salah. Maka akulah yang perlu meminta maaf. Dari sejak awal: aku yang salah.