Akhir-akhir ini baca ulang buku tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Terus jadi berfikir..demi sebuah tulisan yang menyuarakan kebenaran beliau harus mendekam di penjara, mulai dari penjara di masa kolonial, orde lama bahkan belasan tahun di masa orde baru. Betapa dahsyatnya imbas dari sebuah tulisan, sampai untuk membungkam ide-ide penulis harus memenjarakan dan membuang tanpa pengadilan.
Saya saja, kadang harus berfikir berulang kali sebelum mempublish tulisan di blog. Takut terjerat UU ITE. Hahaha. So’soan… Padahal tulisannya si saya belum tentu juga ada yang baca juga apa yang mau dijerat wong isi tulisannya ga mutu gitu, wkkwkwk.
Sekarang, di era serba keterbukaan dan serba cepat. Berita yang saya baca melalui media online jarang menyentuh masalah kemanusiaan. Hanya “sekedar laporan singkat yang kemudian dengan cepat digantikan dengan laporan singkat yang lainnya. Salah saya juga siih, jarang baca media cetak- yang mungkin tak hanya memberitakan fakta tentang berita tapi juga menyentuh sisi kemanusiaannya. Saya teringat kisah Seno Gumira Ajidarma yang harus lengser dari jabatannya sebagai redaktur karena memberitakan pembantaian di Timur-Timur. Usahanya tak berhenti, dicerpenkannya peristiwa itu sehingga pembantaian itu sampai pada saya yang tak pernah tahu adanya peristiwa itu sebelum membaca cerpen-cerpennya Seno. Membaca kisah dibalik tulisan cerpen Seno, saya mengingat guru bahasa inggris saya waktu kursus singkat’ di Bali yang bertanya kepada saya tentanv tragedi pembantaian etnis di Birma-Myanmar. Tak ada seorangpun yang tau. Dia bertanya, bagaimana mungkin tak ada seorangpun tahu, padahal negara Myanmar sangat dekat. Dia bilang, kenapa bisa terjadi pembantaian dalam sebuah negeri? Karena tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang bersuara. Bagaimana orang bisa tahu ada pembataian? Karena ada yang berbicara, bersuara. Menuliskannya menjadikan suara itu terdengan meluas dan tak lekang dimakan waktu.
Nilai kemanusiaan adalah nilai yang universal, maka ketika nilainya dilanggar, maka seluruh dunia akan mendengar.
Maka, seharunyalah saya selain menjadikan kegiatan menulis sebagai ajang terapi buat diri saya, saya ingin menuliskan kebenaran dan kejujuran. Kenyataan yang terjadi di sekeliling saya. Menyuarakan suara mereka yang tak tersuarakan.