“Kereta adalah alat transportasi yg sekaligus menggambarkan wajah nyata sebuah negeri” Agustinus Wibowo
Seseorang remaja tanggung, menyapu dengan tangannya di lantai kereta yang tak begitu kotor juga tidak bisa dibilang begitu bersih. Telapak tangannya hitam legam ditenpeli debu dan tanah dari sepatu dan sandal yang dibawa oleh para penumpang kereta. Perlahan, berangsut inchi demi inchi, menyapu seluruh gerbong.
Senandung shalawat berkumandang dari seorang yang tak bisa melihat dengan awas terseok-seok bergerak dalam kereta yang melaju. Untungnya, kereta tak cukup padat sehingga menghindarkan dirinya terantuk. Ada beragam lagu berkumandang, dilafalkan dari beragam macam penghibur yang justru sebagian besar tak membuatku terhibur. Miris.
Penjual makanan, pernak-pernik keperluan sehari-hari, buku..hilir mudik menjajakan barang dagangannya. Ada yang barang dagangannya dipikul, dibuat semacam kereta dorong atau dibuat cantelan. Semua barang dijual murah tetap ditawar.
Penghuni tetap kereta ini menampilkan wajah semangat kerja keras, perjuangan untuk tetap hidup dalam segala keterbatasan mereka.
Bukan pertama kali, aku menyaksikan serupa wajah negeri ini. Namun, setiap kalinya tak juga berkurang rasa perih di hati, menahan buliran air mata tak jatuh.
Mengingat, mungkin pentas perjuangan hidup di kereta akan menjadi sebuah kenangan menyusul rencana kebijakan penghapusan kereta ekonomi digantikan kereta berAC. Mungkin ini serupa dengan operasi plastik wajah, make-up berlebihan untuk menghilangkan semua kekurangan. Namun, menampilkan wajah yang palsu, wajah yang tak mencerminkan realita yang ada.
Kereta tetap melaju, mempertontonkan serupa wajah kepedulian.
Seorang pemuda di sebelahku yang sedang duduk tiba-tiba berdiri, fikirku dia akan segera turun di stasiun berikutnya. Ternyata, dia berdiri sampai stasiun terakhir, baru aku sadari dia berdiri ketika memasuki stasiun wilayah Jakarta dimana banyak penumpang masuk. Tanpa berkata.. Dia mempersilahkan Ibu dengan seorang anak yang masih balita untuk duduk, meskipun akhirnya kursi itu kosong, dia tetap berdiri, untuk kemudian diisi dengan Bapak tua yang ketika duduk langsung memijit-mijit kakinya.
Serupa wajah negeri ini yang tak aku lupakan: serupa wajah semangat berbagi.