Dulu,ketika saya masih kecil dan belum mengenal cinta, saya dibuai dengan berbagai kisah cinta tanpa syarat. Namun realita seakan menyadarkan saya, bahwa tidak ada cinta semacam itu. Saya pernah mendapat surat cinta dari seseorang yang karena lingkaran pertemanan, saya tahu dia sedang mendekati perempuan lain-yang-merupakan-teman-saya. Pada suatu malam saya mendapat sms kangen dari dia yang belum terjawab oleh saya. Namun paginya saya mendapati lelaki itu bersama perempuan-lain-yang-merupakan-teman-saya sedang berdua-dua di tempat sepi. Untungnya saya, tidak ‘jatuh cinta’ jadi tidak merasakan sakit, hanya merasa sebal. Kesungguhan lelaki itu dipertanyakan ketika dia mendekati seseorang kemudian di saat yang bersamaan mendekati orang lain. Apalagi ini bukan orang lain-ini teman saya.
Maka, ketika menemukan link di twitter dari @amrazing cinta tanpa syarat masih adakah? . Ternyata, kisah dongeng masa kecil saya…mungkin…mungkin berdasarkan kisah nyata. Hanya saja probabilitasnya satu diantara seribu.
Kemudian, saya sadar… bahwa sebenarnya kita dianjurkan cinta bersyarat. Yah, cinta dengan syarat keimanan. Bolehlah lelaki memilih perempuan karena kecantikannya, kekayaannya, keturunannya tetapi yang lebih baik adalah memilih karena agamanya. Sebenarnya menurut saya cinta dengan syarat keimanan itu justru bisa menjadi cinta yang tanpa syarat. Karena ketika mencintai seseorang berdasarkan rasa cinta padaNYA. ketika cintanya terus dibangun dari hari ke hari sampai penutup hari. ketika cintanya membuahkan ketenangan, ketentraman, kedamaian. cinta yang tak saling menyakiti. cinta yang tak menjadikan nafsu sebagai dewa.
Yah, mungkin, selama ini, saya belum merasakan cinta tanpa syarat karena saya belum sepenuhnya mencintaiNya. Padahal saya dilimpahi begitu banyak cinta, namun yang saya lakukan bukan balik mencintaNYA, malah menuntutNya dengan beragam keinginan. Bukannya berkorban untuk membalas rasa cintaNYA, malah terkadang seringkali melupakanNYA. Lupa, bahwa Dialah yang Maha Kuasa mengatur beragam rasa dan menanamkan rasa cinta juga juga menumbuhkanya. Juga dengan mudahnya merenggut rasa cinta itu.
>>>
Sebenernya saya membaca linknya dari kemarin2, cumannya hari ini saya mendapat kabar yang bisa jadi kabur bahwa lelaki yang pernah dekat, sudah pernah berhubungan serius dengan sahabat baik saya, di suatu ketika, saat saya menjauh. Hubungan mereka terganjal konspirasi orang tua akan sebuah restu. Saya tidak memperkarakan masalah ini, hanya saja jujur saya sedih: saya tak ada ketika sahabat saya bahagia atau sedih (mungkin keberadaan saya memang tak penting). Kabar ini membuat saya ingat ingat draft tulisan saya.
Bersyukur bahwa saya masih diberikan kesempatan untuk menyadari kealpaan saya, untuk mulai belajar mencintaiNYA dan membuktikan rasa cinta padaNYA.