Cerita tentang jemputan bagian kedua

Hari kedua naik bis jemputan, saya bisa berjalan dengan tenang dari kosan menuju kantor pusat. Saya bisa menikmati birunya langit, jalan basah yang memantulkan lampu-lampu dari gedung bertingkat, kicauan burung, berbincang dengan Ibu penjual minuman yang menaruh jualannya dikepalanya. Kondisi ini jauh berbeda hari pertama dan H-min dimana saya harus berlari-lari karena khawatir tertinggal bis jemputan.

Hari kedua naik jemputan, membuat saya terbangun tengah malam berkali-kali, terbangun menjelang subuh. Mungkin percis seperti anak kecil yang dijanjikan jalan-jalan dan terus terbangun karena khawatir kesiangan atau tertinggal. Memang saya tengah berusaha berjuang untuk merubah ritme hidup saya, menjadikan pagi saya yang lebih berarti 🙂

Di jemputan ini, saya bisa mengenal orang-orang baru dari beragam unit di kantor saya, beragam watak yang memperkaya hidup saya. Mencoba untuk membuka telinga dan hati saya untuk mendengar kisah mereka.

Mungkin, suatu saat… Ini akan menjadi suatu rutinitas. Bisa jadi, namun saya masih bisa memberi makna pada setiap rutinitas yang dilakukan. Atau bisa jadi, saya tak lagi membaca, tak lagi memperhatikan apa yang terjadi di luar jendela jemputan, tak lagi berbincang, tak lagi sibuk dengan berbagai aplikasi di telpon genggam.. Karena saya sibuk membangun rutinitas yang baru 🙂

Ketika ada baru pertama maka ada juga perpisahan dengan. Ditengah kata selamat datang dan selamat tinggal untuk bis jemputan ini semoga saya bisa memanfaatkan waktu dengan penuh kesyukuran, menikmati setiap waktunya.

>> menikmati kemacetan dalam bis jemputan.
Yang membuat saya sangat bersyukur naik bis jemputan adalah saya tidak perlu merasakan panas terik dan debu yang membuat perih mata, atau jalan yang becek mengotori pakaian.