Pagi ini, saya membangun kebiasaan baru, bersiap menuju kantor sebelum matahari terbit. Biasanya saya bisa supeerr nyantai karena kosan saya dekat dengan kantor pusat namun berhubung hari ini merupakan hari pertama saya masuk ke kantor yang baru di kawasan Tangerang dan sementara saya masih kos di Pusat Jakarta, membuat saya harus merubah rutinitas saya. Semalaman saya tidak bisa tidur dengan nyenyak karena khawatir tertinggal jemputan yang disediakan dari kantor pusat ke kantor baru. Pukul 6 pagi, ketika saya akan bergegas pergi, HP saya berbunyi… dari layar, tertampang nama salah satu super senior di kantor saya.
“Win, kamu dimana? Saya udah di jemputan?”
“Hah? Bapak udah dijemputan? Jemputannya udah mau pergi ya Pak? Bentar-bentar tunggu saya ya Pak.”
Whuaaa…saya menghubungi rekan sesama junior yang janjian berangkat jam 6 dari kosan masing-masing. Karena informasi yang kami dapat, jemputan akan berangkat 6 lebih seperempat atau jam setengah tujuh. Khawatir terlambat, saya berlari dari kosan sampai di parkiran kantor pusat, tempat jemputan berada. Untungnya jarak kosan saya dan kantor pusat dekat, jadi lari-larinya cuman sekitar 10 menit aja. Ternyataa Bapak yang menelpon saya sedang berbincang dengan teman saya yang junior. Tidak sesuai dengan bayangan saya ketika ditelpon, harusnya Bapak yang menelpon itu berada di dalam jemputan yang mau berangkat. Ternyataaa… Bapaknya cuman mau ngasih tau dia udah sampai di tempat – __-‘.
Di parkiran kantor pusat sudah ada dua bis jemputan yang terparkir, tetapi supir yang dinanti-yang-entah-siapa-namanya tak kunjung datang 😦 Menunggu hampir satu jam, sampai ada bis jemputan yang dari luar Jakarta nyampe di kantor membuat saya curiga… Jangan-jangan hari ini tidak ada jemputan…Saya agak memaksa Bapak super senior buat nelpon rekannya yang di bagian kendaraan untuk memastikan. Kecurigaan saya terbukti, karena ternyata tidak ada jemputan sampai dengan tanggal 1 Maret nanti *zzzz*** bete bangeet 😦 Tapi untungnya Bapak senior bawa mobil, jadinya kami tetap bisa berangkat menuju kantor baru.
Kejadian penantian bus yang tak kunjung datang, betul-betul membuat semangat saya padam. Namun, ketika acara syukuran kantor baru, Bos saya memberikan petuah bahwa kesulitan itu datang dari fikiran kita. Bla-bla-bla… Yang intinya semua yang terjadi dalam hidup kita pada dasarnya baik, hanya cara kita menyikapi semua hal itu lah yang menyebabkan baik-buruk.
Saya jadi berfikir, mungkin kejadian saya nunggu jemputan itu untuk menjadi pelajaran buat saya agar tidak gampang untuk percaya sama janji-janji orang lain. Sangat penting untuk mengecek terlebih dahulu akan hal yang baru berjalan atau apapun itu kepada orang yang bertanggungjawab secara langsung.
Satu hal yang saya syukuri saya bisa menyaksikan matahari terbit memulas langit menjadi keemasan. Cahayanya memantul di tembok pencakar langit 🙂 Keindahannya tak kalah dengan langit senja 🙂 meski bukan pertama kalinya saya menyaksikan matahari terbit di Jakarta, saya selalu suka 🙂
Saat memfokuskan fikiran untuk hal yang postif. Ternyata hal yang baik datang beruntun. Bos saya menugaskan saya ke kantor pusat untuk mewakilkan dirinya dalam sebuah rapat, rekan kerja saya mengajak saya rapat besok di kantor pusat juga dua hari ke depan saya ada agenda rapat di Jakarta Utara. Jadiii kesimpulannya saya tidak perlu ke kantor baru saya selama belum ada jemputan 🙂
Betapa saya bersyukur untuk hari ini 🙂