Feeds:
Posts
Comments

Ayam kremes dengan nasi rempah

Menu untuk berdua, dua kali makan :D

Nasi rempah dibuat dengan menggoreng bawang merah, bawang putih, salam kemudian dimasukkan ke dalam beras yang mau ditanak bersama bunga kapulaga, alanis star dan cengkeh. Ini semacam nasi uduk ala Aceh karena dibuat oleh orang aceh =)

Kalau ga ada temennya males banget bikin ayam kremes. Tapi berhubung masak bareng, jadi gapapa bikin lagi ayam kremes. Dan baru nyadar, sebelum berangkat ke tempat temen, ternyataaa tepung tapioka udah habis 😦 terus langsung googling pengganti tepung tapioka, yang hasilnya tepung sagu. Lebih susahlaaah nyari tepung sagu T___T

Untungnyaaaa ada cookpad dan nemu resep yang sesuai dengan ketersediaan bahan. Terimakasih banget yang udah berbagi resep kremesan dari tepung maizena, tepung beras dan tepung terigu. Penyelamat banget!

Hasilnya ga jauh kok dari kremesan dari tepung tapioka πŸ™‚ cuman lebih ribet aja harus nyampurin tiga tepung sementara kalau sebagian besar resep cuman pake tepung tapioka aja.

Ayamnya diungkep sama bumbu jadi ayam goreng Bamboe ditambah cabe hijau. Sambelnya sambel goreng bawang πŸ™‚

Total waktu yang diperlukan untuk memasak: kurang lebih dua jam dengan dua orang Β yang memasak .____. Ga kebayang kalau sendiri, mungkin perlu waktu setengah hari. Padahal buat ngabisinnya ga perlu waktu berjamjam πŸ˜…

alhamdulillah, setelah seminggu lebih ga makan nasi πŸ˜€ bisa makan enaaaak .

Happy tummy, happy soul πŸ™‚

Advertisements

Spaghetti aglio olio

Spaghetti aglio olio ini aslinya dari Naples Italia. Spaghetti yang sederhana sekali karena aslinya hanya menggunakan minyak zaitun, bawang putih dan peterselli dengan bumbu garam, lada hitam dan serpihan cabe. Tapi, karena sederhana sekali akhirnya dimodifikasi dengan menambhakan keju parmesan atau udang. Sementara saya menambahkan ikan tuna πŸ˜€

Cara memasaknya

1. Rebus spaghetti di dalam air dengan sedikit olive oil sampai matang, untuk kemudian ditiriskan. Saya tidak menakar berapa banyak spaghetti yang saya masukkan. Saya pernah membaca resep (tapi lupa menyimpannya) yang menyarankan tidak perlu disiram air dingin spaghettinya.

2. Ketika merebus spaghetti, panaskan minyak zaitun dalam api sedang masukkan bawang putih yang diiris tipis jika sudah timbul gelembung-gelembung kecil di minyak sekitaran bawang putih, masak di api yang rendah. Sampai bawang putih berubah warna menjadi kecoklatan. Kalau yang normal seperti itu cara memasaknya, berhubung saya memakai tuna, maka saya tambahkan tuna ketika menggoreng bawang putihnya.

3. Setelah minyak zaitun-bawang putih-tuna dan spaghettinya matang, camampurkan keduanya (yang seharusnya dilakukan di piring πŸ˜€ tapi saya ga punya piring yang cukup besar jadi saya lakukan di penggorengan). Tambahkan lada hitam, garam, peterselli dan serpihan cabe secukupnya.

Percaya deh, sesusah-susahnya bikin spaghetti atau pasta, atau steak ga lebih susah daripada masakan di warung padang!

Bertemu Bapak

Beberapa hari lalu, saya bertemu Bapak,

Bapak sedang duduk di kursi, saya memeluknya erat dengan berurai air mata saya bilang kangeeeeen paaaak.

Bapak pun tak kuasa menahan tangisnya, dan menjawab, “kenapa ga pulang? Kapan pulang? ”

Sediiih sekali rasanya, rasa kesedihan yang mendalam membuat saya terbangun. Hanya mimpi ternyata, tapi rasa sedihnya nyata.

Kemudian,

Menangis

sejadi-jadinya.

Bapaaaaak

❀❀❀

Bermain-main di Cafe Kraft

Nyoba hal yang baru pertama kali itu, selalu ada ketakutan. Sejak dulu pengen belajar manjat, tapi kaya ada ketakutan karena sadar diri kurang berpostur atletik jadi takut susah ngangkat diri sendiri. Dan sedikit ketakutan untuk terjatuh atau terluka. Tapi, gabung sama temen-temen yang juga baru mau mencoba pertamakalinya, rasa penasaran mengalahkan ketakutan.

Untuk pertama kalinya, kami menjejakkan kaki di Cafe kraft yang terkenal banget di Stuttgart sebagai tempat untuk bouldering, memanjat tanpa tali karena area panjat yang tidak terlalu tinggi sehingga memungkinkan untuk meloncat atau kalaupun terjatuh masih aman karena ada matras di sekeliling area panjat.

Ketika masuk ke tempatnya, terdapat cafe yang menjual makanan selain itu menjual baju, celana, sepatu dan berbahai pernak-pernik yang mendukung kegiatan memanjat. Untuk satu hari penuh, untuk pelajar/mahasiswa harus membayar tiket masuk 8 euro (weekeday) dan 9 euro (weekend). Sementara untuk bukan pelajar dan anak-anak dikenakan harga tiket yang berbeda. Ditambah harga sewa untuk sepatu khusus memanjat 3.5 euro.

Ketika masuk ke area memanjat, bau tidak enak menyergap, karena disini berpuluh-puluh sepatu-sepatu panjat di taruh dengan berbagai ukuran. Ternyata sempit banget kalau pake sepatu panjat dengan ukuran alas kaki normal, rata-rata kami menaikan satu sampai dua nomer ukuran alas kaki… (aturannya mungkin emang sepatunya didesain gitu dan kita harus bersitahan sama rasa sakit karena kesempatan, tapi berhubung pemula banget kita lebih mengutamakan kenyamananπŸ˜…) . Baru masuk disuguhi pemandangan dua lelaki berbadan kekar yang mencoba mengelantung kemudian terjatuh mencoba lagi terjatuh terus mencoba…huwaaa, apakabar kita yang klemer-klemer, ga punya otot tangan.

Saya terpesona sama tempatnya yabg luaaas, terdiri dari dua lantai. Di lantai atas selain ada arena panjat ada juga area untuk melatih otot tangan dengan peralatan olahraga berat. Maka di kesempatan yang pertama kalinya ini, kita coba mengrksplorasi berbagai kemungkinan, setiap dinding yang kosong kita jelajahi atau cukup hanya di kagumi saja karena ga punya ide gimana cara manjat dengan batuan yang cuman kaya hiasan gitu, ga bisa jadi pegangan (apa ga tau tekniknya).

Sebelumnya saya ga tau kalau ada 8 tingkat kesulitan berdasarkan warna yang disediakan di cafe kraft ini; dimulai dari yang termudah kuning dan ungu, hijau, pink, orange, biru, merah, siena, dan hitam. Tapi dari coba-coba, saya cuman bisa memanjat trek ungu dan kuning hahaaa, itupun yang datar-datar, belum bisa yang landai sehingga begelantungan melewati treknya… rasanya harus menguatkan otot tangan buat mampu menahan beban tubuh melawan gravitasi atau mungkin…butuh diet biar ga terlalu berat bebannya.

Bergelatungan di trek kuning dan ungu

Cuman bertahan beberapa menit buat manjat sana, manjat sini, coba trek sana coba trek sini. Sisanya ngeliatin orang-orang yang jago banget nyoba lintasan pink dan orange, lalu terpana melihat anak-anak yang sudah menaklukan lintasag ungu dan kuning (bukan memadukan keduanya seperti yang kami lakukan). Bahkan sebelumnya kami memanjat tak peduli akan warna, si temen bilang “i am a colour blind” setelah nyoba susah jugaaa ternyata kalau cuma nyoba warna ungu aja pun.. dan baru terpecahkan rutenya setelah melalui percobaan beberapa kali dan berdiskusi sejenak. Hahaa, harusnya pemula-pemula ini didampingi orang yang ahli -____-‘

Rasanya seru, karena berkali-kali terjatuh tetap mencoba. Kadang temen nyoba trek hijau yang jauh cukup sulit dan dirasa sulit tapi ternyata bisa dilalui. Senang rasanya bisa sedikit-sedikit menaklukan rasa takut meski berakhir dengan telapak tangan yang lecet serta sendi tangan dan bahu yang pegal-pegal.

Mbu’ Day

Mbuuu…..

πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž20170901123806_IMG_7308