Feeds:
Posts
Comments

Masih belajar untuk mendengarkan

Ada temen yang kabur dari tempat tinggalnya karena ga ngerasa betah tinggal sama teman serumahnya yang ga mau mendengarkan dan hanya mau didengarkan. EGOIS banget katanya.

Lalu saya merasa selama ini saya masih lebih banyak berbicara daripada mendengar saya jadi berfikir.. bahkan ketika teman saya menumpahkan unekuneknya saya masih berbicara bukan hanya mendengar. Saya jadi sadar kalau saya belum menjadi pendengar yang baik dan semoga GA termasuk orang yang Ga mau mendengar apa kata orang kalau itu masukan yang positif meski rasanya ga enak.

Iya saya harus menajamkan pendengaran dan berlatih ketahanan mendengarkan

Advertisements

Percobaan yang gagal

Akhir-akhir ini lagi suka sama berbagai percobaan bikin kue. Lebih suka lagi karena bertemu dengan teman yang suka makan kue. Kloplah kita sering-sering bereksperimen.

Kali ini meski udah ngikutin resep banget, tapi kue gagal dan jauh dari ekspektasi. hiks. Agak kecewa  karena proses yang dilakukan untuk membuat japanese cheese cake ini tidak mudah. Misalnya pada saat pengadukan kuning telur dengan butter dilakukan sambil dipanaskan diatas kompor kemudian pada saat proses baking juga harus dilakukan sambil direndam dengan air panas. Selama percobaan bikin kue selama ini… kue ini yang paling ribet prosesnya. Untungnya sebagian besar proses dilakukan oleh sang teman. Saya bantu-bantu dikit aja.

Pas dimatiin ovennya dan ngeliat kuenya ngembang dan texturenya sesuai dengan harapan, bahagiaaaa banget. Habis mendinginkan kuenya di dalam oven selama 30 menit… ternyata kuenya jadi kempes. huhuhuuu. Sensitive banget si kuenya sama temperatur, kemungkinan karena pas manasin temperatur terlalu tinggi terbukti ada crack di kuenya dan karena proses pendinginan terlalu cepat, kue yang udah mengembang jadi kempes lagi.

Tidak seperti biasanya, kegagalan kali ini jadi bikin semangat buat nyoba lagi. Sampai suatu hari nanti bisa menghasilkan kue yang sesuai harapan. Kalau terus nyoba, suatu saat akan berhasil bukan? 😀

Andaikan percobaan di uni seperti pembuatan kue. Harusnya kegagalan apapun bisa melecut semangat bukan mematikannya. *masih mengais-ngais semangat yang menguap bersama salju yang mencair*

Solo Traveler

Sampai di negeri benua yang antar negaranya dapat dikunjungi seperti mengunjungi antar kota tidak serta merta membuat saya bisa berjalan-jalan seperti yang saya atau orang lain bayangkan sebelumnya. Selain masalah waktu, tapi ketika ada kesempatan…saya berkali-kali melewatkan kesempatan tersebut.

Sebagai anak manja yang seringkali diantar kesana kemari dan belum pernah melakukan perjalanan seorang diri ke daerah yang baru ada rasa keinginan yang sangat untuk menjadi solo traveler. Kemudian apa yang terjadi? Sebagian besar waktu selama perjalanan dilalui dengan berlinangan air mata. Kenapa? Harusnya saya bahagia karena apa yang saya inginkan pada akhirnya terpenuhi juga perjalanan yang lancar, pemandangan yang bagus, cuaca bersahabat. Tapi saya merasa sepi sendiri di tengah keramaian,  jauh dari orang-orang tercinta.  Membuat pemandangan apapun yang ada di depan mata menjadi blur…

Pada akhirnya saya menyadari kalau  saya bukan perempuan tangguh yang dapat  melakukan penjelajahan seorang diri.  Begitupula kesimpulan dari sahabat-sahabat saya yang selama ini membersamai saya ke daerah yang baru. Saya butuh seseorang yang membersamai sepanjang perjalanan yang dilakukan agar saya tidak merasa sepi sendiri. Karena ternyata bukan tujuan perjalanan yang penting buat saya, tapi dengan siapa saya melakukan perjalanan tersebut.

Menonton yang monoton

Di satu sisi saya mengaku tipe pembelajar visual, tapi disatu sisi gaya belajar ke-visualan saya dipertanyakan.

Karena saya ga terlalu suka menonton televisi ataupun bioskop. Bahkan waktu tinggal jauh dari orang tua saya bisa hidup tanpa televisi 😀 padahal dulu belum populer banget acara televisi yang juga diupload di Youtube. Terus dulu bioskop tinggal selangkah dari kantor dan kosan tapi kesana cuman kalau ada temen yang ngajakin gitu. Dan saya sih ga merasa melewatkan sesuatu dengan ga tau acara-acara televisi atau film yang lagi beredar soalnya dari waktu SD juga pas temen-temen yang lain heboh cerita acara-acara televisi si saya ga bisa ikut nimbrung. Jadi semacam terbiasa terjebak dalam sebuah obrolan dimana si saya cuman jadi pendengar yang ga tau apa-apa.

Sampai di sini, bertemu dengan sahabat-sahabat yang  suka sekali menonton film, kalau ketemu mereka seringkali bertanya kamu sudah menonton film ini…ituuu…. yang seringkali saya jawab NO :(! Seringkali suka disuruh coba di tonton deh. Tapi yaa gituu… saya lebih milih liat video di Youtube atau video lucu yang tersebar di timeline atau baca buku daripada nonton film mana disini atauran menonton film bajakan lebih sangat ketat daripada di Indonesia. Tapi lagi-lagi… kalau ada yang ngajakin nonton yaaa ayoookkk…atau kalau ada yang ngasih referensi cobadeh tonton… ditonton setelah dikasih tau ceritanya gimanaa…

Nah pengennya sekarang, kalau ada waktu… mulai nonton video-video yang dibagikan buat belajar berbagai hal di Youtube atau website pendidikan bukan nonton tayangan ga penting, yang menjadikan hidup lebih bermakna.

9 gaya belajar

Funders and Founders mendeskripsikan gaya belajar dalam 9 tipe.

Apa 9 Tipe Itu?

1. Visual

Ini adalah tipe orang yang banyak belajar dan memahami sesuatu dengan melihat.

Buku, foto, video, diagram, serta berbagai materi visual yang menarik pasti akan dia lahap.

2. Auditory

Tipe orang yang mudah mengingat ucapan orang lain dan penjelasan verbal.

Tipe ini bisa menangkap pelajaran dengan menyimak penjelasan dosen dan guru di kelas. Atau bisa juga mendengarkan rekaman suara yang membahas materi pelajaran.

3. Kinestetik

Tipe belajar dengan mengandalkan aspek fisik dan gerakan.

Tipe ini butuh memegang dan merasakan hal-hal yang dia pelajari, nggak sekadar melihat atau mendengar materinya.

Biasanya, sih, senang belajar dengan bantuan alat peraga, praktek langsung di lab, atau dengan flash card (kartu yang berisi materi pelajaran). Seenggaknya, flash cardmembuat suasana belajar lebih menarik, karena tipe ini jadi bisa menyentuh kartu serta menggerakkan tangan.

4. Memanfaatkan Stres

Ternyata stres itu nggak melulu berakibat negatif. Malah, ada orang yang lebih fokus belajar saat stres. Banyaknya tugas dan ujian justru memacu tipe ini menjadi berprestasi.

Pelajar tipe ini bisa mengelola stres dan tough menghadapi situasi under pressure. Bahkan mereka justru butuh tantangan. Sebaliknya, kondisi santai bakal membuatnya lemah.
Trik untuk pelajar tipe ini adalah pasang target, supaya selalu terpacu untuk memenuhinya.

5. Serba Relaks

Kebalikan dengan tipe sebelumnya, pelajar tipe malah bisa performdengan baik saat merasa nyaman dan santai. Jadi dia harus membangun suasana yang relaks untuk belajar.

Olahraga, aromaterapi, camilan sehat bisa membantu membangun suasana jadi menyenangkan.

6. Menulis

Rahasia tipe ini untuk menyerap pelajaran adalah dengan menuliskannya. Bisa dengan menulis catatan di kelas, bikin rangkuman, menjawab latihan pertanyaan dan lain sebagainya.

Tipe ini, biasanya sebelum ujian, menyalin rangkuman pelajaran.

7. Menyimak orang yang terpercaya/berpengaruh

Kalau guru/orang yang menyampaikan pelajaran tampilinspiring dan bisa berkomunikasi dengan baik, maka pengaruhnya akan sangat terasa untuk tipe ini.

Proses belajar tipe ini akan efektif jika menyimak orang yang kompeten/berpengaruh. Alhasil, tipe ini perlu mencari guru atau pembimbing yang benar-benar bagus serta dapat menerangkan dengan baik dan jelas.

8. Mengajar

Cara belajar yang paling efektif untuk tipe ini adalah dengan mengajari orang lain. Menelaah pelajaran kemudian menyampaikannya ke orang lain, bikin makin cepat menguasai materi tersebut.

Makanya, banyak yang bilang kalau ngajarin orang lain justru bikin tipe ini makin pintar.

9. Meniru

“Learning by doing exactly the same thing”, itulah tipe ini. Dengan meniru, bisa menguasai dan memahami suatu materi. Artinya, perlu contoh yang bagus.

Untungnya, berkat Youtube, medsos dan perkembangan teknologi, menemukan guru/ tutor untuk diikutii nggak susah lagi.

Demikianlah tipe gaya belajar mudah-mudahan dapat menjadi bahan acuan kita untuk menentukan cara belajar yang baik dan pas untuk kita sehingga mampu menyerap pelajaran dengan baik.

Referensi: https://www.youthmanual.com/post/dunia-sekolah/akademik/9-gaya-belajar-dan-menghafal-kamu-termasuk-tipe-yang-mana

Dari ke 9 gaya belajar, saya termasuk tipe orang yang belajar dengan

  • gaya visual karena suka baca buku, liat video, lebih mudah memahami kalau ada ilustrasinya, bikin diagram dsb. tapi kalau hanya visual belum terlalu efektif buat saya saya harus membuat sendiri tulisan atau ringkasan dari apa yang saya fahami yang berarti…
  • menulis menjadi gaya belajar yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran selama ini. Meskipun seringkali harus mencatatat ulang karena tulisannya ga rapih atau catatannya ga lengkap.  Selalu punya rangkuman materi perkuliahan dengan tulisan yang warna warni maka kertas warna-warni atau pulpen warna-warni menjadi suatu keharusan buat saya ketika menyandang status pelajar. Ga bisa nahan buat beli perlengkapan alat tulis yang unyuuu…
  • gaya audio juga saya suka, karena kadang saya suka rekam penjelasan dosen di kelas buat didengarkan kembali. tapi kalau hanya mendengar belum efektif buat saya, saya harus  menceritakan kembali apa yang saya fahami.
  • gaya kinestetik, saya suka bikin flash card buat ngafalin. Waktu belajar kata-kata bahasa inggris setiap ketemu kata baru, saya bikin di kertas buat digulung tersus tiap hari ngocok beberapa kertas buat diinget gitu. Menyenangkan tapi butuh proses lama
  • memanfaatkan stress… kayanya kalau masih jauh dari dealine selalu santaiiii lalalalalalaaaa…. pernah nyoba belajar juga ga masuk2 ke otak. Baca iniitu di awal semester akhir semester selalu ada yang terlupakan. Jadi selalu aja belajar menjelang ujian =( sebulan sebelum ujian laaah karena kalau disini SKS sama aja maju ke medan pertempuran tanpa persiapan sama sekali.
  • mengajar jugaaa saya sukaaa… tapi say aga diberkahi dengan kepintaran menyerap informasi juga kurang rasa percaya diri buat membagi apa yang saya fahami. Jadinya lebih sering saya di porsisi yang jadi murid, yang bertanya, terus diskusi bareng gt. Tapi seneeeng banget pas tau sesuatu dan bisa menjelaskan kepada orang lain. Rasa senengnya lebih daripada bisa menjawab soal ujian dengan benar 🙂

Jadi demikian dari 9 gaya, saya masih mencoba berbagai cara dan upaya sih buat efektif belajar. Tapi paling efektif buat saya ituuuu memang belajar bareng-bareng, dengan catatan  plus belajar sendiri lagiii 🙂 Kalau cuman belajar sendiri atau cuman ngandelin belajar bareng hasilnya suka ga maksimal.