Feeds:
Posts
Comments

Sepenggal drama!

inilah perasaan org tua tdp anak…apalagi perempuan n jauh….bimbang dan khawatir..

Meski belum menjadi orang tua, tapi saya bisa memahami dan mengerti sejenis kepanikan dan khawatiran orang tua yang tidak bisa menghubungi anaknya. Waktu yang relatif, dua minggu buat orang tua saya adalah waktu yang bisa ditolelir untuk tidak saling berkirim kabar, apalagi saya sebelumnya mengabarkan kalau saya sedang sibuk atau akan menghadapi ujian. Tapi buat orang tua yang selalu menghubungi anaknya setiap hari, bahkan setiap pagi dan petang, maka dua minggu adalah batas; untuk merasa khawatir dan berfikir ada sesuatu yang terjadi pada anaknya. Maka segala upaya dilakukan temasuk mengontak teman-temannya, sesama mahasiswa indonesia dan seseorang yang dituakan yang dekat dengan anak-anak mahasiswa.

Saya, termasuk salah seorang yang terakhir bertemu, persis di waktu ketika si teman mulai tidak bisa dikontak orang tuanya. Saya membantunya pindahan, dan dia tampak baik-baik saja hanya saja perangkat selularnya yang bermasalah. Tapi, siapa yang terakhir bertemu dengannya dalam dua minggu terakhir? Tak ada yang tahu. Kami tak yakin bahwa dia baik-baik saja. Apalagi beberapa bulan lalu, ada kabar mahasiswa yang bunuh diri dan tak sedikit yang depresi. Maka harus ada yang memastikan, datang langsung ke tempat tinggalnya. Hari itu, salah seorang teman datang di malam hari agar kemungkinan si teman sudah di rumah lebih besar. Setelah masuk ke apartemennya, pintu kamar si teman tak terkunci dan terlihat si teman terbaring di tempat tidurnya, berbagai fikiran berkecamuk khawatir ada apa-apa. Ketika si temen terbangun dengan heran “ada apa yaaa” dueeeenggg, aaaarrrggg… si temen ini, ga tau apaaa kita semua heboooh nyariin. Ternyataaa dia baik-baik saja, dan memang tak sempat mengabarkan orang tuanya karena pagi sampai malam mengerjakan thesisnya sehingga sampai rumah tak lagi punya energi membuka laptopnya, dan langsung terbaring sepulang dari kampus persis seperti yang disaksikan. Karena pihak-pihak yang dihubungi ayahnya masih khawatir, saya berkunjung keesokan harinya. Kami saling bercerita, tertawa-tawa karena kehebohan yang disebabkan olehnya, tentang rencananya menyelesaikan thesisnya sebelum lebaran, tentang keinginannya untuk bekerja, tentang keluarganya, tentang cerita cinta, tentang hobinya. Oke, cased closed! 

Tapi ternyataa…kali kedua, ayahnya masih tak bisa menghubungi. Teman-teman dan saya mengunjunginya, tapi dia baik-baik saja memang masih belum beli hp untuk dapat berkomunikasi dengan lancar. Saya memahaminya, mungkin dia lelah dengan pertanyaan yang sama setiap harinya “Kapaaaaan luluuuuus?” Meskipun dia tidak mengutarakan kenapa dia tak menjaga komunikasi dengan orang tuanya selain karena kesibukan thesisnya. Kami memberikan wejangan, please jaga komunikasi dengan orang tua pakai cara apapun. Maka kita memberikan solusi kepada ayahnya untuk membelikan si teman hp baru. 

Yang jelas, kali ketiga, masih sebelum Ramadhan, ayahnya masih mencarinya padahal hp baru sudah ada. Salah seorang temen berkunjung ke tempat tinggalnya, dan mendapati hp baru yang kotaknya belum terbuka. Tidak ada cerita apapun yang baru, selain si temen sibuk dengan thesisnya. Tapi kami merasa aneh, meski sudah mempunyai hp baru setiap kami, semua teman-teman yang mengirim pesan tak dibalas, setiap panggilan tak dijawab. Terhubung sih terhubung tapi tak direspon. Kami berfikir mungkin memang si teman tak mau diganggu. Tapi ternyata orang tuanya pun mengalami pengalaman serupa.

Sekitar bulan Ramadhan, kesekian kalinya, bapaknya mencarinya lagi. Karena kesibukan dan tempatnya tinggalnya yang tidak bisa dibilang dekat, saya dan teman-teman belum berkesempatan mengujunginya. Selama ada acara pengajian, buka bersama dan lain-lain, si temen tak pernah datang. Di sisi lain, saya memahami mungkin si temen memang ingin sendiri, tak diganggu agar bisa fokus menyelesaikan studinya. Karena ada juga masa-masa dimana saya ingin sendiri, tak ingin diganggu.

Kemudian Bapaknya mengabarkan akan datang ke sini saking khawatirnya karena sampai sekarang, setelah lebaran komunikasi tak lancar. Sekarang pencarian lebih heboh, karena tak ada seorangpun yang tahu dimana dia tinggal. Akhir bulan Juni, tepat si temen pindah tempat tinggal. Seseorang pernah bertemu di supermarket tengah kota di akhir bulan lalu mengatakan dia tampak sehat dan baik-baik saja tapi dia kira kasus hilangnya si temen sudah terpecahkan karena pernah berkunjung ke tempat tinggalnya saat pencarian kedua jadi dia tak bertanya tempat tinggal barunya dan kenapa dia menghilang lagi. Bersama kenalannya dari berbagai negara juga ayahnya yang berupaya dari jauh: menghubungi pihak kampus. Tapi karena anaknya sudah dewasa pihak kampus tak bisa memberikan alamat baru tanpa seizin pemiliknya kepada siapapun juga polisi tak bisa mencari kalau tak ada bukti dia pernah berusaha melakukan sesuatu yang membahayakan jiwanya. Apalagi kesaksian pihak penanggung jawab asrama bilang pas pindah si temen tampak baik-baik saja dan terlihat normal.

Saya  berharap bisa mengakhiri segera pencarian ini. Tapiii bagaimana caranyaaa? T__T 

merasa bersalah karena saya tidak meluangkan waktu untuk berkunjung ke tempatnya 😦  penyesalan selalu datang terlambat memang, lain kali setiap ada niat baik ga boleh ditunda-tunda.

Semoga si teman baik-baik saja.

Sesi curhat

Jadi gini… Ada anak Indonesia yang sejak lulus SMA melanjutkan studi di Jerman dan sekarang melanjutkan studi masternya. Dia terkenal jago matematika dan baik banget sama anak-anak Indonesia yang kesulitan sama matematika. Ada salah satu anak Indonesia di jurusan lain, yang bisa lolos ujian berkat gemblengannya.

Selain pinter dia terkenal rajin sih, selalu duduk di barisan terdepan, selain ituuu… Dia jadi hiwi (hilfe wissensaft) (asdos kalau di Indonesia tapi ga terbatas buat yang berhubungan perkuliahan tapi juga penelitian) buat ngisi kelas latihan anak-anak sarjana yang tentunya memakai bahasa Jerman. 

Beruntung! Saya satu jurusan dengannya meski beda tahun masuk sehingga pernah beberapa kali sekelas. Tentunya saya beruntung bisa belajar bareng dia dan temen segenk kelompok belajarnya yang orang Jerman. Hasil belajar bareng dia dan temennya itu dari ga ngerti apa-apa, belajar selama dua minggu tiap hari sebelum ujian, saya bisa menjawab soal ujian dengan hasil yang ga cuman sekedar lolos ujian 🙂 Terus abis ujian diumumkan, si saya dipaksa, bareng-bareng ngadep asisten liat hasil ujiannya dan protes sama penilaian mereka biar nilainya bisa terkoresi. Sebelumnya ngadep, kita sempet ketemua buat bahas jawaban kita pas ujian (dimana saya udah lupa jawab apaa aja) dan nyari bukti-bukti yang mendukung jawaban kita- _- padahal sumpaaah saya udah seneeeng dan bersyukur bangeeet sama hasil yang didapat. Kalau ga belajar bareng dia, mungkin saya harus ngulang pelajarannya 😦

Beberapa waktu lalu, si saya curhat karena ga lulus (LAGI) salah satu mata kuliah. Terus responnya “Kok bisa, aku dapet perfect!” Terus giliran si saya ” KOK BISA DAPET PERFECT!!!” Hiks…berasa butiran atoom bangeeet T__T. Dia komentar gitu ga bermaksud sombong tapi saking ga percayanya kok kuliah segampang itu (menurut dia) bisa ga lulus. Terus dia bilang, dia bisa dapet perfect karena suka matematika dan dia ngambil terus mata kuliah lanjutannya 😅. Buat saya, pelajaran kombinasi fisika-kimia yang diselesaikan dengan cara matematika ituuu… Apalahapalaaah. Untungnyaaa, dia baik hati berjanji mau ngajarin meski lagi sibuk-sibuknya dan stress nyelesain thesisnya yang ga selesai-selesai.

Terus hari ini, si saya curhat lagi, karena tampaknya saya akan memperpanjang waktu studi di sini….

Sebagai tokoh panutan, dia sukses mau selesai masternya di tahun ke tiga. 

Terus apa kabar si sayah iniiiii???!

Ahyah.. Saya sempat lupa kalau hidup penuh perjuangan! Saya lupa kapan yaaa saya terkhir kali berjuang dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati… 

Terimaksih David sudah mengingatkan dan selalu membantu saya untuk melewati masa-masa suram. 

Syukur hari ini

Alhamdulillah, hari ini bisa makan bakwan jagung dan empal geprek tanpa bersusah payah memasaknya karena ada Nanda yang berbaikhati berbagi masakannya. Enaaak rasanya berasa di Bandung 😀

Alhamdulillah hari ini, untuk langit cerah penuh awan. Kalau balik ke Jakarta bakalan kangen sama biru langitnya.

Alhamdulillah untuk senja yang indah dan hujan yang menyejukkan.

Alhamdulillah untuk seorang sahabat yang menghubungi tiba-tiba karena katanya keingetan terus padahal sedang mudik di kampung suaminya T__T selalu saja saya membuat orang lain khawatir *sighn

Semoga kita semua, termasuk kedalam golongan hambaNYA yang bersyukur. 

“Akhirnyaaa, merasakan lontong jugaaa”

Dicrop dari insta story-nya temen

Alhamdulillah banget kemarin memasak lontong berlebih, jadi  bisa mengundang temen-temen yang ga bisa datang pas open house Idul Fitri karena ada excursion atau kepentingan yang lain. Dan pada belum nyicipin hidangan khas lebaran.

Buat temen lontong, bikin sayur godog khas betawi dimana pepaya mudanya diganti dengan kohlrabi, ga ada kacang panjang di semua toko Asia jadi diskip, tak lupa ebi dan ditambah ayam potong dadu biar rame =D Kata temen rasa Kohlarbi ini mirip bangeet sama manisan, kalau kata saya mirip waluh sih 😅

Awalnya bikin kepedesan, tambah air sampai mentok, terus rebus dengan api kecil, air berkurang, tambah air lagi sampai kepedasan berkurang. Kalau bikin buat sendiri sih, ga masalah sepedes apapun. Karena masakin buat orang lain,  kalau sakit perut kan kasiaan. Terus masak tahu goreng cuman buat penggembira. Tadinya mau ditambah perkedel, tapi waktu ga memungkinkan karena orang2 yang diundang sudah berdatangan 😅

Oyah, temen tanya, pake bumbu apa aja di sayuran ini: pake bawang schalotten, paprika yang kaya cabe satu buah, cabe rawit tiga buah, bawang putih tiga buah, kemiri tiga buah, serbuk kunyit, serbuk ketumbar, serbuk lada, garam dan gula pasir, sereh satu batang digeprek. Yang bikin gurih itu ebi sih. Ebi ga pernah salah emang.

Memang menunya ga semenarik dan se-wah open house kemarin sih tapi lumayaan laaah buat sekedar ‘setidaknya’ nyicip lontong 😀

Tapi ternyataaaa, ini sih menu istimewa!!! Ga nyangka ternyataaa Nanda bikin ayam goreng suwir. Terus ada kerupuk jugaaa dari Sigit yang ternyata ditugasi Nanda untuk menggoreng kerupuk. Terus ada serundeng daging yang dibikin ibunya Firda yang khusus diimpor dari Indonesia.

Alhamdulillaaaah ^^
Padahal niatannya tadi makan lonyong sayur ala-ala, eh, malah banyaak temennyaaa 😊

Alhamdulillah nambah berkalikali,
Happy tummy , happy soul

dimulai dari sebuah pesan, 

winda, when do you finish ramadan?…  i want to celebrate hari raya adilfitri with you and also your friends…..

Pesan ini, saya dapatkan dari sahabat saya dari Singapura yang Non muslim dan bisa dikatakan tidak beragama. 

Tentu saja ya. Saya mau, memenuhi undangannya. Saya mengajak satu sahabat yang muslim dari Indonesia dan satu sahabat saya dari Jerman. Kami berangkat ke rumah sahabat saya yang dari Singapore, ketika sampai di rumahnya, saya dipeluknya seraya diberikan ucapan “selamat hari raya Idul Fitri” dengan terbata-bata. Rasanya haruu T__T dan tersentuh dengan kebaikannya.

Sambil menantikan pacarnya sahabat yang mengundang dan temannya pacarnya yang samasama dari jerman, kami membuat sambal dan menyimak cerita liburannya. Dan ketika pacarnya dan teman pacarnya datang, merekapun mengucapkan selamat idul fitri. huhuuuu… Harusnya saya yang mengundang mereka, tapi saya malah yang diundang padahal mereka ga merayakan sama sekali. Mereka tidak (atau belum) tertarik dengan Islam, hanya saja memang sahabat saya itu supeeeeer baiknyaaa… Dan kami juga pas makan, ga melulu berbincang tentang agama. Lebih kepada makanan, pengalaman liburan pacarnya temen di Indonesia, dan suasana kerja di Jerman.

Tak ingin datang dengan tangan hampa, sebelumnya saya memasak goreng ayam penyet, dan tempe kering juga merendam tahu dalam kunyit, bawang putih dan garam untuk digoreng beberapa saat sebelum disantap sehingga masih terasa hangatnya.

Saya juga melebihkan membuat lontong untuk dibawa, tapi sahabat yang mengundang membuat nasi lemak sehingga saya mengurungkan diri untuk membawa lotong kari dan mengganti menu yang sesuai dengan nasi lemak. Dan pacarnya sahabat yang mengundang membuatkan Pie strawberry, yang strawberrynya dipetik langsung dari ladangnya. Rasa strawberrynya benar-benar maniis, rasa pienyaa enaaak.

Jadi agenda di hari raya id ini, seharian padaaaat sekali, dari jam 6 pagi sampai jam 9 malam. Saya sampai tidak bisa meluangkan waktu buat video called dengan keluarga 😦 sampai h+1 badan masih berasa ringsek, tapi semuanya harus sudah mulai berjalan kembali normal. 

Semoga berjumpa kembali dengan ramadhan tahun bepan dan hari raya id yang jauuuuh lebih indah =)