Feeds:
Posts
Comments

Archive for July 7th, 2017

Sepenggal drama!

inilah perasaan org tua tdp anak…apalagi perempuan n jauh….bimbang dan khawatir..

Meski belum menjadi orang tua, tapi saya bisa memahami dan mengerti sejenis kepanikan dan khawatiran orang tua yang tidak bisa menghubungi anaknya. Waktu yang relatif, dua minggu buat orang tua saya adalah waktu yang bisa ditolelir untuk tidak saling berkirim kabar, apalagi saya sebelumnya mengabarkan kalau saya sedang sibuk atau akan menghadapi ujian. Tapi buat orang tua yang selalu menghubungi anaknya setiap hari, bahkan setiap pagi dan petang, maka dua minggu adalah batas; untuk merasa khawatir dan berfikir ada sesuatu yang terjadi pada anaknya. Maka segala upaya dilakukan temasuk mengontak teman-temannya, sesama mahasiswa indonesia dan seseorang yang dituakan yang dekat dengan anak-anak mahasiswa.

Saya, termasuk salah seorang yang terakhir bertemu, persis di waktu ketika si teman mulai tidak bisa dikontak orang tuanya. Saya membantunya pindahan, dan dia tampak baik-baik saja hanya saja perangkat selularnya yang bermasalah. Tapi, siapa yang terakhir bertemu dengannya dalam dua minggu terakhir? Tak ada yang tahu. Kami tak yakin bahwa dia baik-baik saja. Apalagi beberapa bulan lalu, ada kabar mahasiswa yang bunuh diri dan tak sedikit yang depresi. Maka harus ada yang memastikan, datang langsung ke tempat tinggalnya. Hari itu, salah seorang teman datang di malam hari agar kemungkinan si teman sudah di rumah lebih besar. Setelah masuk ke apartemennya, pintu kamar si teman tak terkunci dan terlihat si teman terbaring di tempat tidurnya, berbagai fikiran berkecamuk khawatir ada apa-apa. Ketika si temen terbangun dengan heran “ada apa yaaa” dueeeenggg, aaaarrrggg… si temen ini, ga tau apaaa kita semua heboooh nyariin. Ternyataaa dia baik-baik saja, dan memang tak sempat mengabarkan orang tuanya karena pagi sampai malam mengerjakan thesisnya sehingga sampai rumah tak lagi punya energi membuka laptopnya, dan langsung terbaring sepulang dari kampus persis seperti yang disaksikan. Karena pihak-pihak yang dihubungi ayahnya masih khawatir, saya berkunjung keesokan harinya. Kami saling bercerita, tertawa-tawa karena kehebohan yang disebabkan olehnya, tentang rencananya menyelesaikan thesisnya sebelum lebaran, tentang keinginannya untuk bekerja, tentang keluarganya, tentang cerita cinta, tentang hobinya. Oke, cased closed! 

Tapi ternyataa…kali kedua, ayahnya masih tak bisa menghubungi. Teman-teman dan saya mengunjunginya, tapi dia baik-baik saja memang masih belum beli hp untuk dapat berkomunikasi dengan lancar. Saya memahaminya, mungkin dia lelah dengan pertanyaan yang sama setiap harinya “Kapaaaaan luluuuuus?” Meskipun dia tidak mengutarakan kenapa dia tak menjaga komunikasi dengan orang tuanya selain karena kesibukan thesisnya. Kami memberikan wejangan, please jaga komunikasi dengan orang tua pakai cara apapun. Maka kita memberikan solusi kepada ayahnya untuk membelikan si teman hp baru. 

Yang jelas, kali ketiga, masih sebelum Ramadhan, ayahnya masih mencarinya padahal hp baru sudah ada. Salah seorang temen berkunjung ke tempat tinggalnya, dan mendapati hp baru yang kotaknya belum terbuka. Tidak ada cerita apapun yang baru, selain si temen sibuk dengan thesisnya. Tapi kami merasa aneh, meski sudah mempunyai hp baru setiap kami, semua teman-teman yang mengirim pesan tak dibalas, setiap panggilan tak dijawab. Terhubung sih terhubung tapi tak direspon. Kami berfikir mungkin memang si teman tak mau diganggu. Tapi ternyata orang tuanya pun mengalami pengalaman serupa.

Sekitar bulan Ramadhan, kesekian kalinya, bapaknya mencarinya lagi. Karena kesibukan dan tempatnya tinggalnya yang tidak bisa dibilang dekat, saya dan teman-teman belum berkesempatan mengujunginya. Selama ada acara pengajian, buka bersama dan lain-lain, si temen tak pernah datang. Di sisi lain, saya memahami mungkin si temen memang ingin sendiri, tak diganggu agar bisa fokus menyelesaikan studinya. Karena ada juga masa-masa dimana saya ingin sendiri, tak ingin diganggu.

Kemudian Bapaknya mengabarkan akan datang ke sini saking khawatirnya karena sampai sekarang, setelah lebaran komunikasi tak lancar. Sekarang pencarian lebih heboh, karena tak ada seorangpun yang tahu dimana dia tinggal. Akhir bulan Juni, tepat si temen pindah tempat tinggal. Seseorang pernah bertemu di supermarket tengah kota di akhir bulan lalu mengatakan dia tampak sehat dan baik-baik saja tapi dia kira kasus hilangnya si temen sudah terpecahkan karena pernah berkunjung ke tempat tinggalnya saat pencarian kedua jadi dia tak bertanya tempat tinggal barunya dan kenapa dia menghilang lagi. Bersama kenalannya dari berbagai negara juga ayahnya yang berupaya dari jauh: menghubungi pihak kampus. Tapi karena anaknya sudah dewasa pihak kampus tak bisa memberikan alamat baru tanpa seizin pemiliknya kepada siapapun juga polisi tak bisa mencari kalau tak ada bukti dia pernah berusaha melakukan sesuatu yang membahayakan jiwanya. Apalagi kesaksian pihak penanggung jawab asrama bilang pas pindah si temen tampak baik-baik saja dan terlihat normal.

Saya  berharap bisa mengakhiri segera pencarian ini. Tapiii bagaimana caranyaaa? T__T 

merasa bersalah karena saya tidak meluangkan waktu untuk berkunjung ke tempatnya 😦  penyesalan selalu datang terlambat memang, lain kali setiap ada niat baik ga boleh ditunda-tunda.

Semoga si teman baik-baik saja.

Read Full Post »